Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Kampoeng Silat Jampang’

IMG_9954  Jampang (03112014)

JAMPANG – Perguruan Silat Satria Muda Indonesia ialah salah satu perguruan Sillat yang tergabung dalam Kampoeng Silat Jampang Dompet Dhuafa.

Setiap tahunnya Perguruan Silat ini menyelenggarakan event rutin dari mulai tanggal 31 Oktober – 02 November 2014 yang merupakan ajang silaturahmi antar pesilat Perguruan Satria Muda Indonesia & memperebutkan piala Pres.dir.Dompet Dhuafa.Menurut Bang M.Noor(Ketua Pelaksana Jampang Silat Competition 3) salah satu tujuan di adakannya event ini adalah untuk mempersiapkan atlit menuju tingkat local bahkan sampai dengan tingkat Internasional.

Acara yang berlangsung meriah dari pagi hingga sore hari itu turut dihadiri oleh Kepala Desa Jampang Bpk.Wawan Hermawan.AMd, Bpk.Drs.Mahdum Sarmaji (Kom.Wil.Kota Perguruan Silat Satria Muda Indonesia)., Perwakilan pejabat dari Kec.Kemang dll.”Event kali ini di ikuti oleh sebanyak 250 atlit yang terdiri dari 35 unit di wilayah Bogor Kota, Bogor Kabupaten, Depok & Sukabumi”.Ujar Bang M.Noor.

Iklan

Read Full Post »

IMG01504-20140608-1238 Akhir – akhir ini pengetahuan  bela diri praktis bagi kaum perempuan terasa menjadi sangat penting mengingat tingkat kejahatan yang menimpa kaum hawa ini semakin meningkat. Dengan memiliki pengetahuan bela diri praktis diharapkan para perempuan tidak lagi menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab, baik itu dari orang – orang yang dikenal dalam lingkup keluarga (kasus KDRT), maupun orang asing yang berniat jahat.

Pelatihan Silat praktis ini bertujuan untuk saling berbagi pengetahuan dan mempelajari tips & trik membela diri kepada para perempuan. Hal ini menjadi sebuah solusi yang ditawarkan oleh Dompet Dhuafa kepada masyarakat melalui Paguyuban Kampoeng Silat Jampang (KSJ). Dalam pelatihan ini diajarkan jurus – jurus membela diri secara cepat namun praktis bagi kaum perempuan. Adapun yang dipelajari adalah mulai dari melepaskan kuncian, menangkis, membuka serangan, memukul, menendang, sampai menjatuhkan lawan dalam posisi terlentang. Semuanya dibawah bimbingan instruktur yang berpengalaman dan profesional. “Ini merupakan event terbuka yang akan kita laksanakan secara berkala dimana kali ini para peserta terdiri dari berbagai latar belakang, ada pegawai swasta, PNS, Siswi SMA Jakarta, Ciputat dan dari Jabodetabek,” ujar  Ketua KSJ, Bang  Saptaji  yang juga turun langsung menjadi instruktur dalam acara ini. “Pelatihannya seru banget dan sangat bermanfaat untuk kita pelajar dan khususnya para perempuan dalam menambah kepercayaan diri dan keberanian untuk membela diri,” ungkap  Salah seorang peserta dari SMAN 38 Jakarta, Sofin Azimah Qolbi. Ia pun berharap program ini bisa diadakan lagi secara berkelanjutan agar semakin banyak perempuan yang mendapatkan pelatihan semacam ini.

Silat sebagai bagian dari sebuah kekayaan budaya bangsa memang tidak hanya sekadar harus dilestarikan, tetapi juga memiliki nilai yang seharusnya menyatu dalam setiap aktifitas keseharian masyarakat. Itulah sebabnya saat ini Silat sudah mulai menjadi sebuah trend tersendiri di masyarakat yang diselenggarakan di berbagai tempat, dimulai dari ekskul sekolah sampai dengan pusat pelatihan di musholla dan perkantoran. Keinginan masyarakat akan perlunya pengembangan silat terus bermunculan, salah satunya di Desa jampang  Kab. Bogor yang tidak hanya terbentuk Paguyuban KSJ dengan tujuh perguruan silat didalamnya, tapi juga dalam pengembangan yang lebih besar lagi, Desa Jampang telah menjadi sebuah Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang.

Kegiatan “Silat for Health and Women Self Defence” adalah salah satu program dari KSJ, selain program pembinaan dan pelatihan silat yang tersebar di sekolah – sekolah, pesantren dan lokasi umum lainnya yang ada di Desa Jampang dan sekitarnya. Menurut Direktur Pusat Pengembangan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang, M. Noor Awaluddin Asjhar, seluruh program yang dijalankan disini merupakan pengembangan dari konsep wirabudaya atau culturepreneurship, yakni upaya pemberdayaan melalui  pengembangan budaya lokal dengan pariwisata sebagai sektor penggeraknya. “Dengan demikian, setiap program pemberdayaan maupun wisata yang dibuat memiliki nilai pengetahuan maupun pengembangan budaya yang juga diharapkan akan mampu mendorong pemberdayaan masyarakat secara lebih luas. Hal ini termasuk pada kegiatan “Silat for Health and Women Self Defence” yang penyelenggara dan pelaksana kegiatannya sebagian besar melibatkan masyarakat setempat,” pungkasnya.

Read Full Post »

 

IMG_7346

 

 

 

PARUNG – Salah satu program pemberdayaan sosioekonomi dan budaya yang dilaksanakan oleh dompet dhuafa adalah menjadikan desa jampang menjadi desa wisata, dan silat sebagai ikon dari desa wisata tersebut.

Upaya pengenalan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang (KSJ) dilakukan dengan membuka stand pada acara Festival Pencak Silat (FSP) Jawa Barat 2014, yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada hari Minggu (16/2) lalu.

“Bersyukur KSJ telah mengikuti FPS, karena insyaallah KSJ akan lebih dikenal lagi baik di Jampang maupun di Jawa Barat bahkan insyaallah manca negara. Kalau didasari niat baik dan tetap istiqomah untuk pengembangan kebudayaan kita yang berdampak baik juga pada masyarakat khususnya yang ada di daerah desa Jampang.” Kata Guru Besar PPS Beksi Tradisional H. Hasbulloh, Muali Yahya.

Pemecahan rekor MURI gerak jurus H. Yusyus Kuswandana, cultural performance, workshop, dan pameran UKM adalah rangkaian acara yang diselenggarakan di event terbesar di Jawa Barat itu. Sebagai salah satu peserta pameran, tim Zona Madina dan beberapa orang tokoh silat yang ikut serta di event FPS ini sangat bangga akan adanya acara yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan para pesilat tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

“Festival ini murni sebagai bakti saya selaku putra Jawa Barat yang ingin mengembangkan lebih jauh Pencak Silat. Data yang Saya punya, Pencak Silat kini sudah ada di 40 negara, dan Saya punya harapan bisa bertambah lagi” ujar Yusyus Kuswandana selaku penggagas Festival Pencak Silat yang juga anggota DPR-RI dari wilayah Sumedang. Oleh karena itu, Yusyus menciptakan 9 jurus baru untuk Pencak Silat yang dinamakan Simpay Buana, yang artinya ikatan persaudaraan Dunia. (pun).

Acara yang berlangsung meriah dari pagi hingga sore hari itu turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti yang pada kesempatan itu juga berkunjung ke stand Desa Wisata KSJ dan menyampaikan respon positifnya atas gagasan pemberdayaan Desa Wisata KSJ yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Tidak hanya Ibu Wiendu, Dede Yusuf  yang juga Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat dan Presiden Silat Dunia  Eddie M Nalapraya juga mengunjungi stand Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang.

Saat ini pengembangan Desa Wisata KSJ sudah dengan menjadikan Silat sebagai bagian dari dunia pendidikan, yaitu ekskul Silat menjadi sebuah sistem pengembangan karakter positif yang prestasi. Pengembangan di bidang pelestarian budaya tradisional dengan adanya wisata dolanan anak. Wisata enam jam membuat golok dan kerajinan pernak-pernik juga merupakan salah satu upaya pengembangan Desa Wisata KSJ dibidang sosioekonomi.

Dengan mengikuti acara pameran dan memperkenalkan konsep Desa Wisata KSJ ini juga diharapkan dapat menarik peran serta masyarakat, pemerintah daerah dan lembaga lainnya untuk turut serta dalam pengembangan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang di masa yang akan datang. (ips)

Read Full Post »

Read Full Post »

kampoeng silat jampang on jakarta post  WEB  Once known as a hamlet of warriors in colonial times, Jampang village is now striving to pass on that legacy to its younger generation.

The sun shone brightly one Sunday in the village in Parung, Bogor. Dozens of children wearing black-and-white uniforms swarmed onto a field to learn and to practice the traditional Indonesian martial art known as pencak silat. Teachers soon led the pack and showed the students a few moves, followed by the students’ echoing shouts under the scorching sun.

The practice sessions are part of weekly activities in Kampoeng Silat Jampang, a training center of traditional martial arts in Indonesia.

The country, with its diverse cultures and ethnic groups, is home to what has been estimated to be 150 variations in style. Different provinces even have their own self defense traditions. The Minang
kabau in West Sumatra have silek harimau, the Sundanese have their cimande style and Bali has bakti negara. Some of those fighting methods have even gained reputations on the global stage, with their popularity reaching Australia, the US, Europe and Japan.

The self-defense technique got another boost from the success of the action movie The Raid, which features Indonesian actors performing pencak silat.

But despite the global fame, it is still a challenge to maintain the pencak silat tradition in the midst of modern society.

This has occurred in Jampang, where the heirs of the Betawi folk hero of the same name are believed to reside and are struggling to preserve the art.

According to local legend, Jampang was a warrior from Sukabumi, West Java. He was a good fighter and used his skills in pencak silat to battle against Dutch colonialism. On his way to Batavia (now Jakarta) to confront the enemy, the man was believed to have sojourned in what is now called Jampang, where he taught local people fighting skills.

A few hundred years later, Jampang’s legacy is now under threat, according to Saptadji, 47, who was one of the teachers at Sunday’s training session and the head of Kampoeng Silat Jampang. He said that youth in the area these days seem to have lost interest in pencak silat.

“They prefer to watch television or play video games,” said the man.

The current situation is much in contrast to the past, Saptadji explained. In the old days, pencak silat was more than a self-defense technique but a way of life, as almost all the people in the village, both young and old, knew how to fight.

This strong cultural influence can still be traced through family histories, with almost all locals interviewed for this article explaining that their ancestors — either fathers, uncles or grandfathers — were pencak silat fighters.

Saptadji himself is the nephew of Sukarna, who is believed to be a sixth generation descendant of Jampang.

In attempts to pass on the legacy of his predecessors, Saptadji with the support of private foundation Dompet Dhuafa, initiated Kampoeng Silat Jampang in 2009 to revive the fighting tradition in his village.

One of the programs is free pencak silat training for everyone.

Saptadji said more than 1,000 people, mostly under 18 years of age, had joined.

“Most of them are residents of Jampang,” Madroi explained.

In order to expand, fighting lessons are not only given on Sunday at Kampoeng Silat Jampang’s headquarters at Rumah Sehat Terpadu Hospital for the poor founded by Dompet Dhuafa in Parung. Trainings are also offered at schools in the form of extracurricular activities.

Dompet Dhuafa representative Moh. Noor Awaluddin said the program had so far entered 17 schools in Jampang subdistrict.

Apart from regular exercises, Kampoeng Silat Jampang also holds an annual festival. The latest Kampoeng Silat Jampang festival was held at the beginning of November, which coincided with the program’s fourth anniversary.

The event is a major gathering for traditional Indonesian martial arts groups. Saptadji said different self defense clubs attended the last festival to show off their unique skills and styles.

In the long run, Awaluddin hopes that Kampoeng Silat Jampang will become a new center for the development of the ancient self defense method in the country, standing side by side with the existing martial arts hub at Taman Mini Indonesia Indah, or perhaps replacing it.

“I hope in the future Kampoeng Silat Jampang will become the destination for people interested in finding out about traditional Indonesian martial arts,” the man said.

Currently, Kampoeng Silat Jampang is the training ground for four different martial arts groups (Satria Muda Indonesia, Pancer Bumi Cikalong, Perisai Diri and Beksi Traditional Haji Hisbullah) and targeting two more (Tapak Suci and Merpati Putih), he said.

Joining Sunday’s training session was the Satria Muda Indonesia group under the leadership of Saptadji, and Perisai Diri, believed to be the most popular Indonesian fighting group, with memberships extending to (Ika Krismantari, The Jakarta Post, Jakarta | Feature | Wed, December 05 2012, 11:42 AM)

Read Full Post »

SWSD-WEB2 Zona Madina-Jampang ( Minggu/23122012), Lima Puluh Perempuan berkumpul pagi ini di Bale Riung Kampoeng Silat Jampang (KSJ)  untuk mengikuti pelatihan Beladiri Silat. Pembelajaran silat yang dipimpin oleh instruktur Kang Iwan Setiawan dari perguruan Silat Cikalong bersama tim, kali ini memberikan pengetahuan kepada para peserta tentang bagaimana melakukan pertahanan diri serta tips dan triknya.

Dalam rangka memperingati hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember kemarin, Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang bergerak di bidang penghimpunan, pengelolaan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah dan wakaf serta dana sosial halal dan legal lainnya dengan melaksanakan pelatihan ini secara kelembagaan bermaksud untuk melestarikan budaya Seni Beladiri Silat yang merupakan warisan dan kekayaan nasional serta diharapkan dapat memunculkan pemikiran pentingnya Beladiri Khususnya Silat dalam upaya menjaga keselamatan diri dan dapat dijadikan cara alternatif untuk menjadi sehat, seperti yang disampaikan oleh Arifin Purwakananta sebagai Pembina dari KSJ sekaligus Direksi Dompet Dhuafa.

Silat for Women Self Defense yang merupakan pengajaran silat praktis untuk beladiri wanita dengan memanfaatkan kekuatan alami yang dimiliki melalui jurus dan teknik silat yang jitu, dilaksanakan dengan kerjasama antara Dompet Dhuafa dengan Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia (FP2STI) yang pada pelaksanaan pertama ini menjadi langkah awal untuk sebuah perkembangan silat di desa jampang-Bogor. Amiin yaa Rob.

Read Full Post »