Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2014

Etoser_Penyaji_Makalah_di_Turki  Jampang (31102014)

Tiga mahasiswa penerima manfaat beastudi Etos (Etoser) Dompet Dhuafa asal Universitas Diponegoro Semarang (berkerudung) menjadi salah satu tim penyaji makalah di konferensi internasional di Istanbul. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

SEMARANG—Tiga mahasiswa penerima manfaat beastudi Etos (Etoser) Dompet Dhuafa asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjadi penyaji makalah di konferensi internasional di Istanbul, Turki 25-26 Oktober 2014 lalu. Ketiga etoser tersebut adalah Sayyida Saida Syarifa (Teknik Lingkungan), Septi Ayu Azizah (Sastra Indonesia), dan Ratih Khoirunnisa (Ilmu Komunikasi),

Mereka menjadi penyaji makalah di konferensi yang bertajuk International Conference Economics And Social Science (ICESS) menyusul makalah yang mereka ajukan sebelumnya lolos seleksi. Konferensi tersebut diikuti oleh berbagai macam profesi dan civitas akademika berbagai jenjang pendidikan dari seluruh negara di dunia.

Tema yang diangkat ketiga etoser Undip tersebut disesuaikan dengan bidang keilmuan yang dipersyaratkan dalam konferensi. Dengan kerja tim yang terdiri dari tiga orang mahasiswi yang berasal dari tiga fakultas yang berbeda, makalah membahas bagaimana meningkatkan kualitas perempuan sebagai pondasi dalam sebuah bangsa. Pokok penelitian makalah tersebut adalah permasalahan perempuan Dolly di Surabaya yang mengalami depresi pasca penutupan lokalisasi.

“Memang tak mudah mengubah diri dari hal buruk ke hal baik, namun jika tidak pernah mencobanya, mana mungkin bisa tahu sejauh mana akan mampu berubah,” jelas Sayyida Saida Syarifa, sebagai ketua tim.

Sayyida menuturkan, tujuan penulisan makalah tersebut merupakan sebuah bentuk kontribusi nyata seorang calon penerus bangsa yang nantinya akan menggerakkan dan mengubah keadaan masyarakat di sekitarnya. Berawal dari hal kecil dan kepekaan sosial yang dibangun sejak dini maka sudah sepantasnya untuk turut serta membangun lingkungan sekitar.

Dalam persoalan tersebut, kata Sayyida, pemerintah mesti serius menangani. Solusi tidak hanya sebatas pada penutupan area lokalisasi. Dalam makalah tersebut disebutkan pula perlu diperhatikan aspek-aspek yang berpengaruh pada kehidupan mereka, misalnya dari segi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

“Orang buruk yang tinggal dalam lingkungan buruk maka selamanya akan buruk, tetapi orang buruk yang berada dalam lingkungan baik maka ada kemungkinan padanya untuk berubah menjadi baik”, ungkap Septi.

Perempuan berperan penting dalam perubahan peradaban. Sebab itu, pemberdayaan peran serta perempuan di lingkungan masyarakat sangat dibutuhkan. Apalagi generasi generasi selanjutnya akan lahir dari perempuan perempuan hebat masa kini.

“Ini sudah seperti janji-Nya, Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Dan itu akan berlaku di mana saja,” pungkas Ratih.

Dengan tekad semangat berbuat kebaikan dan berbagi sesama, harapannya masyarakat turut serta membantu terwujudnya keadaan masyarakat yang dinamis. Jauh dari hal-hal negatif dan tentu dukungan pemerintah akan sangat memudahkan dalam menyelesaikan masalah mereka, baik dari segi sosial maupun ekonomi. (bi/gie). Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Iklan

Read Full Post »

Pengrajin_gula_semut  Jampang (30102014)

Seorang pengrajin gula semut binaan Dompet Dhuafa di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa)

TANGERANG SELATAN—Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Dompet Dhuafa akan memaksimalkan hasil produk hasil pemberdayaan masyarakat yang dilakukan selama ini. Salah satunya adalah dengan memaksimalkan produk gula semut produksi kelompok binaan di Kulon Progo dan Pacitan.

“Lebih kepada pengembangan bisnisnya. Secara umum, kami akan support (dukung) dalam hal pengemasan produk dan meluaskan pasarnya,” ujar General Manager Pengembangan Ekonomi Dompet Dhuafa, Tendy Satrio di Tangerang Selatan, Rabu (29/10).

Lebih lanjut Tendy menerangkan, program ini merupakan lanjutan dari program pemberdayaan ekonomi pengrajin gula semut di Pacitan pada 2006-2008 dan Kulonprogo pada 2011-2013. Saat ini, mitra pengrajin gula semut di Pacitan berjumlah 143 Kepala Keluarga (KK) dan di Kulunprogo berjumlah 27 KK.

Dengan adanya pengembangan industri gula semut tersebut diharapkan dapat lebih mensejahterakan para pengrajin gula semut binaan Dompet Dhuafa. Sebab, pengembangan bisnis tersebut dapat menambah nilai tambah sebuah produk.

“Selama ini, pengrajin gula semut dampingan Dompet Dhuafa menjual produknya secara curah. Belum dikemas dan diberi merek. Dijualnya ke perantara kemudian dijual lagi ke yang lain,” ungkap Tendy.

Upaya Dompet Dhuafa dalam pengembangan industri gula semut tersebut antara lain pengembangan produk turunan, penguatan kapasitas bisnis koperasi, peningkatan dan standarisasi mutu produk gula semut, serta penguatan jaringan kemitraan bisnis (akses pasar).

Dari segi penguatan kapasitas bisnis koperasi, rencananya akan dibangun sebuah rumah produksi bernama Rumah Gula. Rencananya Rumah Gula akan dibangun di Kulonprogo. “Dari segi pasar, dalam negeri kami akan ekspansi seperti ke hotel, restoran, pabrik, industri kecap, dll. Tentu diekspor juga karena tidak semua negara memiliki produk gula semut,” terang Tendy.

Produk gula semut Indonesia memang dikenal memiliki kualitas baik atau layak ekspor. Hal ini lantaran produksi gula semut berbahan alami, tanpa Bahan Tambahan Pangan (BTP). Gula semut juga baik untuk kesehatan karena indeks glisemik rendah dan cocok untuk penderita diabetes.

Menuju MEA 2015 yang sebentar lagi akan diberlakukan memang menjadi salah satu alasan Dompet Dhuafa memaksimalkan produk pemberdayaannya. Hal ini agar para pengrajin gula semut binaan Dompet Dhuafa dapat memaksimalkan peluang dan tidak kalah bersaing dalam pasar bebas Asia Tenggara tersebut.

Pasar bebas MEA 2015 selain mendatangkan peluang juga menghadirkan tantangan. Pasalnya, MEA 2015 membuka arus perdagangan barang dan jasa se-Asia Tengara. Bila tidak dipersiapkan dan dimaksimalkan dengan baik, pelaku usaha dalam negeri bisa kalah bersaing dengan negara lain. (gie). http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Panggung_Inspirasi_Dompet_Dhuafa_2014  Jampang (28102014)

(Dari kiri ke kanan) Zaidul Akbar, Ahmad Fuadi, Mas Mono, Iwel Sastra, dan Prasetya M.Brata saat mengisi salah satu sesi di Panggung Inspirasi 2014. Sebanyak 14 tokoh mengisi acara yang digelar Gerakan Indonesia Berdaya dan Dompet Dhuafa tersebut. (Foto: Taufan/Dompet Dhuafa)

Jam menunjukkan pukul 17.25 lebih saat Jamil Azzaini akan mengakhiri sesi motivasi di acara Panggung Inspirasi 2014 di Gedung Sucofindo, Jakarta pada Ahad (26/7) lalu. Meski sesi terakhir, semangat 700an peserta Panggung Inspirasi tak tampak mengendor mendengar suntikan motivasi penulis buku Makelar Rezeki tersebut.

Dalam sesi tersebut, Jamil Azzaini mengajak para peserta untuk sukses bersama. Jamil menuturkan, sukses adalah orang yang memiliki 4-ta, yakni harta, tahta, kata dan cinta yang tinggi. Namun, semua itu belum cukup jika hanya untuk diri sendiri.

“Untuk itu, 4-ta yang sudah diperoleh tersebut juga harus bisa untuk memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Itu namanya Sukses Mulia,” papar motivator yang mendapat julukan Inspirator Sukses Mulia ini.

Jamil Azzaini merupakan satu dari 14 pengisi dalam acara Panggung Inspirasi 2014. Tokoh-tokoh lainnya adalah Ippho Santosa, Valentino Dinsi, Ahmad Fuadi, Iwel Sastra, M. Assad, Zaidul Akbar, Endy Kurniawan, Ahmad Gozali, Mas Mono, Prasetya M.Brata, Prie GS, Dwiki Dharmawan, dan Snada. Mereka adalah motivator, budayawan,pengusaha, penulis buku, dan seniman yang berkolaborasi memberikan inspirasi.

Ahmad Fuadi, penulis buku Negeri 5 Menara, membakar semangat para peserta untuk berani bermimpi. Dengan motto “Man Jadda wa Jadda”, Fuadi menuturkan siapa yang bersungguh-sungguh untuk menggapai sesuatu, niscata bisa tercapai.

Fuadi juga mengajak para peserta untuk berani merantau. “Dengan merantau, kita akan menemui berbagai hal baru, pengalaman dan membuka wawasan baru. Jangan takut dan bersedih untuk merantau baru karena merantau akan menambah teman dan keluarga,” ujar pria yang sudah mengunjungi 33 negara di 5 benua ini.

Panggung Inspirasi 2014 merupakan acara yang digelar Gerakan Indonesia Berdaya dan Dompet Dhuafa. Gelaran ini untuk menyebarkan inspirasi seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia melalui 14 tokoh penebar semangat.

Gelaran tersebut mengusung tema “Lima Rahasia Sukses yang Tidak Dipelajari di Sekolah”. Panggung Inspirasi 2014 menjadi ajang mereguk ilmu dan inspirasi dari para pakar yang telah sukses di bidangnya masing-masing.

“Panggung Inspirasi 2014 kami adakan untuk memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Tahun depan kami berharap program ini bisa berjalan lagi dengan motivator lebih banyak lagi,” ujar Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Yuli Pujihardi.

Para peserta pun memberikan komentar positif Panggung Inspirasi 2014 yang mereka ikuti dari pagi hingga petang tersebut. Dasni Arsil, pengusaha, menilai Panggung Inspirasi 2014 dapat memacu seseorang untuk berwirausaha menebar nilai positif.

“Terutama anak-anak muda yang masih kuliah, yang masih sekolah. Dimotivasi bagaimana menjadi pengusaha. Karena penguasaha-pengusaha itu penting di Indonesia ini,” jelasnya. (gie). Sumber:http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Pada hari rabu (24/10/2014) Kawasan Wisata Jampang kedatangan rombongan tamu dari SDIT Uswatun Hasanah Depok, diantaranya adalah murid PAUD serta beberapa orang guru. Kedatangan mereka tak lain ialah ingin menikmati sensasi wahana Wisata Edukasi Jampang meliputi Wisata Edukasi Jamur, Edukasi Dokter Cilik, Edukasi Inspirasi Smart E.I & Edukasi ikan memilah hias.

IMG_9886  Melihat lebih dekat cara pembuatan jamur

IMG_0031   Anak anak murid SDIT sedang menerima Edukasi Dokter cilik

IMG_9904   Wisata Inspirasi di Smart Ekselensia

Kinipun Kami menunggu kedatangan kalian yang ingin menikmati Wahana Wisata Edukasi Jampang .

Jangan lupa menghubungi Contact Person kami untuk konfirmasi Wisatanya ya

Salam Wisata Jampang.

Read Full Post »

Ahmad_F  Jampang (22102014)

Ahmad Fuadi

Bergabung dalam berbagai kegiatan Dompet Dhuafa menjadi hal yang sering dijalankan Ahmad Fuadi seorang penulis sekaligus Duta Filantropi Dompet Dhuafa tahun ini. Baginya, ikut terlibat dan mendukung program yang bermanfaat bagi banyak orang merupakan salah satu prinsip hidup yang dijalaninya saat ini.

“Saya bersama teman-teman motivator memiliki prinsip yang sama, alhamdulillah kita dipertemukan kembali dalam Program Panggung Inspirasi Dompet Dhuafa,” ujar Penulis Buku Negeri 5 Menara ini.

Fuadi, demikian sapaan akrab pria kelahiran Padang di Bayur Maninjau Sumatera Barat, 30 Desember 1972 ini menuturkan, ikut berkecimpung dalam aktivitas sosial mampu melatih kepekaan diri seseorang terhadap lingkungan disekitarnya.

“Seseorang itu lebih peka terhadap orang yang sedang membutuhkan pertolongannya, jika ia sering berkecimpung dalam aktivitas sosial,” paparnya.

Bagi Fuadi, kegiatan sosial yang dijalaninya ini bukanlah semata-mata ingin menaikkan popularitas, melainkan niat baik dan keikhlasanlah yang terpatri dalam dirinya dalam menjalankan setiap aktivitas sosial.

“Niatkan dalam diri menjalankan sesuatu yang baik itu karena ibadah, jangan niatkan karena urusan dunia,” terang pria yang menguasai 4 bahasa asing ini.

Dalam program Panggung Inspirasi 2014 yang akan dilangsungkan pada 26 Oktober mendatang, Fuadi menuturkan, alasan ketertarikannya dalam kegiatan berupa seminar dan performing art yang menampilkan 14 tokoh motivator, penulis buku, dan seniman, berkolaborasi dalam memberikan inspirasi sukses ini. Menurutnya, program ini merupakan gebrakan baru yang disuguhkan Dompet Dhuafa dalam berbagi kisah inspirasi sukses yang mampu menjadi pelajaran hidup bagi banyak orang.

Dengan berlangsungnya kegiatan Panggung Inspirasi Fuadi mengharapkan, kegiatan ini akan berjalan lancar tanpa hambatan, dan mendapat dukungan dari seluruh pihak. Fuadi pun menyerukan agar masyarakat ikut terlibat dalam kegiatan ini.

“Saya yakin, setelah mengikuti kegiatan ini, banyak inspirasi atas kisah sukses para motivator dalam menjalani hidup yang dapat diambil ilmunya oleh masyarakat,”harapnya. (uyang). Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Nur_Ahmadi   Jampang (21102014)

Nur Ahmadi saat wisuda program S2 di Tokyo Institute of Technology. (Foto: Istimewa)

Oleh: Nur Ahmadi, Penerima Beastudi Etos Dompet Dhuafa 2006-2009

Dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pedesaan adalah salah satu anugerah terindah bagiku. Di sana, seperti anak-anak pada masanya, melewati hari-hari dengan penuh warna. Tidak ada gurat kesedihan yang nampak, hidup nyaman layaknya tanpa beban. Memang terkadang ada juga tangis, tapi hanya sesaat, sesaat kemudian tersimpul lah senyum dan tawa bahagia.

Hampir sebagian besar waktu kecil kuhabiskan dengan bermain. Segala jenis permainan. Bermain bola di sawah kering beralaskan kemuning jerami; berburu burung bersenjatakan ketapel di hutan seberang; adu renang sembari kejar-kejaran di sungai yang melintasi kampung; petak umpet ba’da maghrib setelah ngaji ke pak kiai di pondok; dan masih banyak jenis permainan yang sekarang sudah jarang ditemui. Begitu indah rasanya mengenang masa lalu, saat-saat yang menyenangkan…

***

Semua kebebasan itu tidak lah berlangsung lama. Saat aku menginjak kelas 3 SD, ayah terkena penyakit, yang sampai sekarang pun aku tidak tahu namanya. Kondisi yang memaksa kakak, aku, dan kedua adikku untuk sedikit dewasa lebih cepat. Tidak bebas bermain seperti sebelumnya. Sepulang sekolah membantu merawat ayah, mencari kayu untuk bahan bakar memasak, atau membantu ibu di sawah. Jika semua tugas sudah selesai, aku pun kadang bermain di dekat rumah, agar lebih mudah jika ayah memanggil.

Hari demi hari pun berlalu. Kesehatan ayah sempat membaik untuk beberapa lama, tapi kemudian memburuk lagi. Dua tahun sudah ayah sakit, dan saat itu memasuki bulan Ramadhan. Praktis ayah tidak bisa berpuasa sama sekali. Meski begitu, saat sahur dan berbuka, kami masih bisa makan bersama sembari bercengkerama. Dan sebulan kemudian, hari kemenangan pun datang. Hari lebaran, hari nan penuh keceriaan. Saat sanak kerabat, jauh ataupun dekat, bisa bertemu saling melepas rindu, memohon maaf atas segala khilaf.

Hari lebaran saat itu merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan olehku. Hari dimana semua keceriaan bertemu pada satu titik. Hari yang menenangkan, di saat beban kesalahan terhapuskan. Namun, pada hari itu pula, terakhir kalinya aku melihat senyum ayah. Hari terakhir kami bisa berkumpul secara lengkap. Ayah dipanggil oleh Sang Pemilik malam harinya. Kebahagiaan tiba-tiba menghilang, tertutupi oleh selimut kesedihan. Sejak hari itu, jalan panjang perjuangan telah dimulai. Hari yang kemudian menggoreskan sketsa mimpi dan janji untuk masa depan, untuk hari esok yang lebih cerah.

***

Sepeninggal ayah aku semakin rajin belajar. Aku ingin mewujudkan pesan yang selalu ayah ulang, “Nak, jadilah orang pintar. Jangan seperti ayahmu yang hanya lulusan SD. Kamu harus jauh lebih baik dari ayah.” Sejak saat itu, aku selalu memuncaki peringkat kelas, menyalip teman perempuan sekaligus primadona kelas yang sedari kelas 1 SD selalu juara.

Lulus SD dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi, tidak lantas memudahkan langkahku melanjutkan ke jenjang SMP. Tiadanya biaya menjadi alasan utama. Ibu, tidak berkata apa-apa. Aku yakin dalam hatinya, ingin sekali menyekolahkanku setinggi mungkin. Begitu juga denganku, aku tidak berani menuntut Ibu, karena memang kondisinya tidak memungkinkan. Aku hanya terus berdoa memohon jalan keluar.

Ibu, semenjak ayah meninggal, berperan sebagai kepala keluarga. Ia setiap hari dari pagi sampai sore bersepeda ke kota, bekerja di sebuah warung makan dekat dengan pabrik plastik. Beliau sudah cukup kewalahan menyekolahkan kakak, apalagi jika ditambah dengan membiayaiku juga. Untuk itulah aku dan juga Ibu tidak saling menanyakan perihal melanjutkan sekolah. Kami hanya berdoa dan berharap dalam diam.

Dan Allah sekali-kali tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang berdoa. Jalan keluar akhirnya datang dari arah yang tak disangka. Tiba-tiba pak kiai menawarkan bantuan untuk melanjutkan ke SMP negeri unggulan, dengan syarat aku harus membantu mengurus kegiatan dan kebersihan masjid. Alhamdulillah, aku bisa masuk di SMP tersebut. Dengan segala keterbatasan, tanpa buku penunjang, tanpa uang jajan, dengan bantuan sepeda tua warisan kakek, aku bisa melalui 3 tahun perjuangan. Bersyukur di tengah perjalanan, aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah, yang sedikit banyak meringankan beban keluarga. Darinya aku bisa membeli sedikit buku persiapan ujian nasional.

Hasil ujian nasional pun diumumkan. Target juara 1 kelas dan masuk 10 besar sekolah tidak tercapai. Aku hanya bisa juara 2 kelas dan masuk 20 besar sekolah. Mungkin karena memang kurang persiapan dan juga karena kurang motivasi. Di saat yang lain sudah merencanakan SMA yang akan dimasukinya, aku tidak terbayang sama sekali. Bisa lulus SMP juga sudah merupakan karunia yang tak terkira.

Saat SMA relatif lebih nyaman dibanding waktu di SMP. Di sini aku lebih terbuka dalam bergaul. Lebih berani mengutarakan pendapat. Begitu banyak teman yang saling mengerti dan membantu. Mendekati kelas 3, aku semakin semangat belajar. Hasilnya aku bisa menjadi juara umum SMA. Hal yang semakin menambah kepercayaan diriku untuk memasuki dunia perkuliahan.

Alhamdulillah, selama di SMA aku selalu mendapatkan beasiswa. Dari sana aku bisa membeli buku-buku untuk persiapan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Aku semakin yakin melangkahkan kaki ke jenjang perguruan tinggi. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan dari keterbatasan. Justru itulah tantangan yang harus aku taklukan.

Awalnya sempat tidak direstui Ibu untuk melanjutkan kuliah karena khawatir dengan biayanya yang mahal. Namun, dengan berbekal pengalaman-pengalaman sebelumnya, bahwa kemudahan-kemudahan pasti akan membersamai kesulitan. Bahwa pasti ada jalan di setiap kemauan. Allah pasti akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Dengan berbekal buku-buku pinjaman dari kakak kelas, dengan bantuan doa seorang Ibu, dengan perjuangan keras meski tanpa bimbingan belajar, akhirnya aku bisa diterima di Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Aku mendapatkan beasiswa dari panitia pusat SPMB, yang mencakup biaya transportasi, tes masuk, SPP tahun pertama, serta biaya hidup selama 1 tahun.

***

Dunia kampus menawarkan berbagai kesempatan untuk berkembang menjadi apapun yang kita inginkan. Tidak heran jika tiap tahunnya ratusan ribu pendaftar berebut kursi di perguruan tinggi. Aku pun merasakan hal yang serupa. Wawasanku akan dunia luar menjadi luas, paradigmaku akan kesuksesan juga berkembang. Bumi ini tidak hanya Indonesia, masih banyak negeri-negeri lain dengan keunggulan masing-masing. Kenapa kita tidak mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah yang lain? Kesuksesan tidak semata untuk diri sendiri, tapi ada tuntutan kontribusi untuk bumi pertiwi. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi sebanyak-banyak manfaat untuk masyarakat. Sejak itu pun aku bertekad untuk berpetualang ke berbagai negeri, mencari benih ilmu dan hikmah untuk ditanamkan di tanah kelahiran.

Dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas aku harus benar-benar berhemat. Beasiswa dari panitia pusat SPMB yang hanya 1 tahun tidak cukup untuk menanggung biaya hidup sehari-hari. Aku harus mencari jalan keluarnya. Akhirnya aku menemukan informasi di papan pengumuman kampus bahwa sedang dibuka pendaftaran beastudi Etos gelombang 2. Karena waktu yang sangat mepet, dengan cepat aku siapkan semua dokumennya. Aku masih ingat apa saja dokumen-dokumen yang dibutuhkan saat itu; Surat keterangan tidak mampu, Surat keterangan slip gaji/pendapatan, Fotokopi rapor SMA dari semester 1-6, Fotokopi STTB, KK, KTP/KTM, Foto Rumah (dari dalam dan depan), Foto 4×6 dua lembar, dan Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup. Dan di hari terakhir pendaftaran aku berhasil mengumpulkannya. Alhamdulillah, sebulan kemudian aku dinyatakan diterima.

Beastudi Etos menawarkan berbagai program pembinaan di bidang agama, sosial, kemandirian, dan pengembangan diri. Selain itu, beastudi Etos juga memberikan uang saku dan fasilitas asrama selama 3 tahun. Dengan begitu potensi kami sebagai penerima beastudi Etos (disebut dengan Etoser) bisa benar-benar tergali, terutama tentang mimpi dan kepercayaan diri dalam menggapainya.

Untuk menambah penghasilan, aku bekerja sebagai pengajar di sebuah bimbingan belajar. Dari sana aku bisa membantu adik melanjutkan sekolah ke SMA. Untuk melatih kepemimpinan, aku mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus. Dari sana aku belajar berinteraksi dan memahami berbagai karakter orang. Untuk menjaga iman dan meningkatkan ilmu agama, aku aktif di unit masjid Salman. Dari sana aku bisa memperbaiki bacaan AlQuran dan berbagi kebaikan. Sedangkan untuk melatih kepedulian, aku ikut mengajar ngaji dan mengajar mata pelajaran sekolah untuk anak-anak di sekitar asrama. Selalu ada kebahagiaan saat kita bisa berbagi dengan sesama.

Memasuki tingkat 3 kuliah, aku semakin serius mempersiapkan segalanya untuk bisa mencari ilmu ke luar negeri. Kelemahanku saat itu adalah bahasa Inggris. Untuk itu, aku giat mempelajarinya agar bahasa tidak menjadi kendala nantinya. Untuk meningkatkan kapasitas diri, aku mulai memberanikan diri menjadi asisten praktikum, asisten dosen, dan mengikuti berbagai kompetisi.

Alhamdulillah semua usahaku pada akhirnya berbuah manis. Aku diberi kesempatan menimba ilmu di Amerika, bisa diberi kesempatan menjuarai kompetisi karya ilmiah di Tokyo, bisa bekerja dengan perusahaan di Singapura, dll. Jika dirunut ke belakang, ternyata ini bukan karena kebetulan semata. Tapi karena aku pernah memimpikannya, yang kemudian secara sadar atau tidak sadar menggerakkan langkahku untuk menggapainya. Itulah kekuatan sebuah mimpi. Semakin yakin kita akan mimpi kita, semakin dekat mimpi itu dengan kenyataan.

Aku sangat suka membaca sejarah orang-orang yang berhasil. Darinya aku bisa belajar banyak hal. Darinya aku bisa mengambil inspirasi dan motivasi. Dan atas inspirasi dan motivasi itulah, akhirnya aku bisa melanjutkan studi di Tokyo. Aku melanjutkan studi S2 di Tokyo Institute of Technology dengan beasiswa penuh Manbukagakusho sejak 28 September 2011. Selepas menyelesaikan studi S2 di Jepang tahun 2012, aku pun kembali ke tanah air dengan aktivitas penelitian di kampus. Menjadi dosen dan peneliti menjadi hal yang aku cita-citakan saat kuliah SI. Awalnya, aku memang memiliki impian yang orang pada umumnya impikan: setelah lulus kuliah bekerja di perusahaan besar atau ternama. Namun, seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan kultur keilmuan di lingkungan pergaulan mengubah paradigmaku soal proposal hidup. Menjadi dosen merupakan kesempatan bagiku untuk berkontribusi bagi bangsa terutama bidang pendidikan.

Begitulah sepotong perjalananku. Beberapa hal yang mungkin sama sekali tak terbayang sebelumnya.Yang dibutuhkan hanya mimpi beserta tekad kuat pantang menyerah demi menggapainya. Karena menyerah hanya akan menjadi hijab antara mimpi kita dan kenyataan.

***

Lukislah selaksa cita dan sejuta asa dalam kanvas masa depanmu. Bingkailah ia dengan doa yang khusyu’ dan tekad yang kuat. Niscaya suatu hari akan kau dapati lukisan indah itu benar-benar nyata di hadapan matamu.

Editor: gie. Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Aksi_Panggung_Kikan  Jampang (20102014)

Aksi panggung Kikan Namara saat mengisi kegiatan Konser Amal 5CHOOL FOR GAZA Dompet Dhuafa. (Foto:Uyang/Dompet Dhuafa)

Aksi panggung yang ditampilkannya di depan siswa-siswa SMA Negeri 81 Jakarta begitu energik di tengah terik panas matahari hingga keringat membanjiri tubuhnya. Meski begitu, hal tersebut tak membuat pesona Kikan Namara. Duta Dompet Dhuafa pada Program 5CHOOL FOR GAZA tersebut tampil di Konser Amal Goes to School 5CHOOL FOR GAZA beberapa waktu lalu.

Ia tampil bersama Bondan Prakoso dengan membawakan beberapa lagu hits yang pernah dipopulerkannya bersama Band Coklat, grup band yang sempat digaunginya. Pemilik nama lengkap Namara Surtikanti ini menuturkan, dalam konser tersebut ia dan Bondan tidak hanya sekadar tampil menghibur semata, namun juga menyampaikan pesan kepedulian untuk saling berbagi terhadap anak-anak yang berada di Gaza, Palestina.

“Ya, saya kira inilah tugas Kikan Namara dan Bondan Prakoso sebagai Duta Program 5CHOOL FOR GAZA. Kami kampanyekan kepedulian lewat bait-bait lagu,” terang Kikan.

Kikan menuturkan, ketertarikannya dalam kegiatan sosial dilandasi atas keprihatinannya terhadap tragedi kemanusiaan yang menimpa anak-anak di Gaza Palestina. Tidak hanya itu, musisi kelahiran Jakarta, 9 September 1976 ini sebelumnya juga aktif dalam kegiatan sosial lainnya bersama rekan-rekannya sesama musisi.

“Saya yakin, bila banyak masyarakat yang ikut tergerak melalui aksi sosial, pasti wilayah dan orang yang terkena bencana pasti cepat pulih kembali,”paparnya.

Lebih lanjut, ibu dua orang putri ini bercerita, meski kali pertama bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, Kikan merasakan pengalaman spiritual yang luar biasa, saat membangun kepedulian masyarakat dalam memperbaiki nasib pendidikan anak-anak Gaza Palestina.

“Melalui aksi sosial ini, Saya merasa bersyukur bahwa Tuhan telah menuntun saya untuk terlibat dalam kegiatan yang sangat bermanfaat ini,” ucap Kikan tersenyum.

Dengan aksi sosial yang dijalankannya bersama Dompet Dhuafa ini, Kikan sangat berharap, jalinan kerja sama tersebut dapat menjadi pengikat silaturahmi, hingga terus berkaya dalam program-program pemberdayaan guna kemaslahatan seluruh umat.

“Ini kan kegiatan bermanfaat untuk banyak orang, yang pasti bila ditawarkan lagi untuk bekerja sama ya monggo saja,” pungkasnya. (uyang/gie). Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Older Posts »