Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2014

DD_Jogja_Suplai_Air_Bersih Jampang (02102014)

Dompet Dhuafa Jogja saat melakukan suplai air di wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa Jogja)

GUNUNG KIDUL—Dua Pekan sudah kemarau panjang melanda wilayah Yogyakarta hingga menyebabkan 18 kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul dilanda kekeringan. Akibat kekeringan tersebut, warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari dan ternak peliharaannya.

Seluruh kecamatan yang mengalami kekeringan diantaranya Semin, Saptosari Girisubo, Playen, Tepus, Rongkop, Ngawen, Nglipar, Purwosari, Paliyan,Karangmojo, Gedangsari, Patuk, Panggang,  Wonosari, Tanjungsari, Semanu,  dan Kecamatan Ponjong. Seluruh wilayah di kecamatan tersebut berada di kawasan selatan, tengah dan utara Kabupaten Gunungkidul.

Untuk meringankan warga dalam menghadapi Krisis air yang terjadi di Gunung Kidul, Dompet Dhuafa Jogja (DD Jogja) menyuplai air bersih di beberapa wilayah Gunung Kidul, yakni Desa Giricahyo Kecamatan Purwosari dan Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari.

“Alhamdulillah sekitar 158 Kepala Keluarga telah kita droping 10 tangki air bersih di kecamatan Purwosari. Sedangkan 9 tangki air bersih kita dropping juga untuk 290 Kepala Keluarga di Kecamatan Saptosari,” ujar Manajer Pendayagunaan DD Jogja, Bambang Edi Prasetyo.

Menurut Bambang, kekeringan yang melanda Kabupaten Gunung Kidul banyak bak-bak penampungan yang sudah jarang teraliri air. Imbasnya, warga pun harus mengambil air dengan berjalan kaki ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang berjarak sekitar 2,5 km.

“Mereka berjuang mati-matian demi mendapatkan air bersih. Karena untuk kebutuhan hidup dan untuk minum ternak serta irigasi persawahan mereka,” jelas Bambang.

Rencana kedepan, DD Jogja secara bertahap akan terus melakukan dropping air di beberapa wilayah di Gunung Kidul yang masih mengalami kekeringan. Selain itu, DD Jogja juga akan memberikan bantuan tangki air untuk wilayah desa yang sering mengalami kesulitan air.

“Semoga kekeringan yang melanda wilayah Yogyakarta ini segera berakhir, dan bantuan memberi manfaat untuk warga,” harapnya. (uyang/gie).Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Iklan

Read Full Post »

Rauf,_Penerima_Manfaat_STF Jampang (30092014)

Rauf saat menjajakan dagangan Kerupuk Bangka. (Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa)

Terlahir menjadi seorang tunanetra tidak membuat Rauf (38) menyerah dalam berjuang menjalani hidup. Berjualan di bawah terik panas matahari siang hari rasanya sudah menjadi hal biasa. Dengan memanfaatkan tongkat dan kemampuan indera peraba yang dimilikinya, ia begitu bersemangat, berkeliling di kawasan sekitar Pondok Cabe, Tangerang Selatan, menjajakan Kerupuk Bangka yang menjadi usaha yang ditekuninya selama ini.

Tidak hanya berkeliling, namun jika sudah lelah berjalan, Rauf selalu menunggu dengan setia para pelanggannya di sekitar Perumahan Pondok Cabe. Tidak ada kata mengeluh yang terucap dalam bibir yang sering melafalkan dzikir saat berjuang mencari nafkah untuk keluarganya tercinta.

“Alhamdulillah, saya selalu berusaha menikmati apa yang telah Allah anugerahkan ke saya,” ujar bapak beranak satu ini.

Keterbatasan yang dialami Rauf juga dirasakan sang istri. Namun keterbatasan tersebut, tidak dijadikannya sebagai alasan untuk lemah dalam menghadapi masa depannya. Baginya, keterbatasan fisik yang dialaminya bukan menjadi suatu halangan untuk tetap berpangku tangan apalagi harus meminta-minta belas kasih orang lain.

“Mau hidup layak ya harus berusaha, bukan diam saja dan meratapi nasib,” terangnya.

Sudah 15 tahun lamanya, Rauf bersama sang istri telah menekuni usaha berjualan kerupuk bangka. Pendapatan yang diperolehnya tidak menentu. Dari 100 kerupuk bangka yang dibawanya, terkadang ia mampu menjual sekitar 20 bungkus per hari, dengan harga setiap bungkusnya Rp 3.000.

“Kalo udah terjual 20 bungkus udah lumayan banget, saya bisa bawa pulang Rp 60.000,” ujar Rauf.

Di saat usaha kerupuk bangkanya sedang merintis, kesulitan perlahan-lahan menghadangnya. Rauf menceritakan, beberapa bulan terakhir ini, dagangan kerupuknya masih menumpuk di rumah akibat kurangnya minat masyarakat tehadap Kerupuk Bangka yang dijualnya.

Rauf merasa putus asa dan tak tahu harus berbuat apa-apa. Hingga akhirnya, sang istri menyarankannya untuk meminjam modal usaha, agar usaha kerupuk yang dijalaninya tidak berhenti. Tanpa ragu, akhirnya pria yang tekun dan ulet ini mengikuti saran yang diberikan istri tercinta.

“Alhamdulillah saya coba ke Dompet Dhuafa, dan disarankan ke STF. Di sana saya didata terlebih dahulu,” terangnya.

Melihat kegigihan dan kesabaran yang ditunjukkan Rauf, alhamdulillah Social Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa memberikan pinjaman modal usaha. Rauf mendapatkan pinjaman pertama sebesar Rp 1.000.000. Dana tersebut, ia gunakan untuk menambah modal usaha kerupuk Bangka dan sisanya digunakan istrinya untuk berjualan aneka macam gorengan.

“Alhamdulillah saya berterima kasih sama Dompet Dhuafa, serasa hidup saya habis gelap terbitlah terang,” ucap Rauf bersyukur. (uyang/gie).Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

5CHOOL_for_Gaza (Jampang 29092014)

(kiri-kanan) Raef, Bondan, Kikan, dan GM Infak Dompet Dhuafa Prima Hadi Putra dalam press conference 5CHOOL FOR GAZA. Raef, Bondan, dan Kikan mendukung program 5CHOOL FOR GAZA. (Foto:Yogi/Dompet Dhuafa)

JAKARTA—Program Dompet Dhuafa untuk pendidikan di Gaza, Palestina, 5CHOOL FOR GAZA, mendapat dukungan dari musisi kenamaan Indonesia, Bondan dan Kikan. Mereka turut mengajak masyarakat terutama kaum muda untuk peduli terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.

“Kali ini, kami menggandeng musisi kenamaan seperti Bondan dan Kikan menjadi duta program 5CHOOL FOR GAZA. Harapanya mereka bisa lebih menggugah kaum muda peduli terhadap Gaza,” ujar General Manager Infak Dompet Dhuafa, Prima Hadi Putra, Kamis (25/9) saat press conference 5CHOOL FOR GAZA di Jakarta.

Putra menambahkan, Dompet Dhuafa terus bersinergi dengan mengajak semua lapisan masyarakat untuk peduli dan berbagi terhadap pendidikan anak-anak Gaza, Palestina. Dalam program 5CHOOL FOR GAZA ini, Dompet Dhuafa menargetkan penggalangan dana dari 1000 sekolah di Indonesia baik itu TK/KB, SD, SMP, SMA. Setidaknya dibutuhkan dana Rp 10 miliar untuk membantu anak-anak Gaza kembali bersekolah.

“Nantinya, dana yang terkumpul akan digunakan untuk merenovasi sekolah di Gaza dan juga memberikan bantuan peralatan sekolah, alat tulis, buku, seragam, dan tas. Sehingga melalui program 5CHOOL FOR GAZA, 1000 Sekolah Indonesia akan berbagi cinta dan harapan untuk wujudkan sekolah di Gaza,” jelas Putra.

Sebagai duta 5CHOOL FOR GAZA, Kikan dan Bondan akan mengunjungi beberapa SMP dan SMA di Jakarta. Mereka akan tampil bermusik sembari mengajak para siswa memiliki kesadaran untuk peduli terhadap sesama.

Menjadi duta program 5CHOOL FOR GAZA, Kikan berharap dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian terkait kemanusiaan lewat musik. Menurutnya, musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan tersebut.

“Kekuatan musik luar biasa. Pesan-pesan kemanusiaan lebih mudah tersampaikan,” ujar Kikan yang mengawali karir bermusiknya dengan membentuk band Cokelat ini.

Selain musisi Tanah Air, program 5CHOOL FOR GAZA juga didukung musisi internasional, yakni Raef. Musisi muslim Amerika yang berada di bawah label Warner Music tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat internasional dalam menyambung mimpi dan pendidikan anak-anak Gaza, Palestina.

“Saya bangga bisa bergabung dengan program dari Dompet Dhuafa ini. Semoga bisa membantu bagi anak-anak di Gaza,” terang Raef. (gie).Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

PSI_1 Jampang (26092014)

Foto: Dokumentasi PSI Dompet Dhuafa

Sejak disahkannya Undang-Undang Pokok Agraria pada tanggal 24 September 1960, berbagai harapan akan kesejahteraan petani negeri inipun muncul pada tanggal yang juga diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Di negara berkembang seperti Indonesia, pertanian dijadikan sektor utama untuk keberlangsungan hidup masyarakatnya. Sektor pertanian merupakan aset utama dalam penyediaan pangan.

Namun, harapan hanya sekedar harapan dan belum terwujud meski peringatan Hari Tani Nasional telah memasuki usia ke 52 tahun ini. Masih banyak para petani Indonesia yang berkeluh kesah terhadap kebijakan pemerintah di negeri ini. Bagaimana tidak? Semakin sempitnya lahan pertanian akibat pembangunan sektor industri besar-besaran menjadi salah satu faktor utama penghambat para petani dalam keberlangsungan penyediaan pangan.

Sehingga tak jarang, banyak para petani di negeri ini yang beralih profesi, seperti menjadi buruh pabrik hingga mengadu nasib ke negeri orang. Tentu, hal tersebut perlu dikhawatirkan. Apabila negara ini sudah krisis ‘petani unggul’, bagaimana masa depan penyediaan pangan bagi negara? apa solusi yang tepat untuk menjawab kegelisahan 2,5 miliar masyarakat dunia yang bergantung pada sektor pertanian?

Pertanian merupakan salah satu warisan anak cucu yang tidak bisa tergantikan oleh sektor lain. Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang pertanian. Saatnya masyarakat di Indonesia melirik dan beralih untuk turut membangun pertanian di Indonesia. Jika memulainya dari sekarang, bisa dibayangkan lima tahun mendatang dunia akan gempar melihat kemajuan bidang pertanian dan kemakmuran bangsa ini semakin dikagumi oleh negara lain.

Untuk membantu pemerintah ini dalam mewujudkan kedaulatan pangan di negeri ini, Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang lebih dari 20 tahun bergerak dalam bidang pemberdayaan pun berusaha merealisasikannya melalui Program Pertanian Sehat Indonesia (PSI) yang fokus pada pengembangan program pertanian sehat secara aplikatif melalui program pendampingan (pemberdayaan) masyarakat petani kecil dan pemasaran produk-produk pertanian ramah lingkungan.

Berbagai program pemberdayaan pertanian pun telah digulirkan diantaranya Bank Benih, Klaster Mandiri, Lumbung Desa, Pemulihan Ekonomi, dan Pemberdayaan Petani Sehat.

Proses pemberdayaan petani miskin yang selama ini dilakukan oleh Pertanian Sehat Indonesia juga telah memantapkan target yang lebih jelas. Salah satu program yang dibangun adalah P3S (Program Pemberdayaan Petani Sehat). Program tersebut tidak hanya karena visi pendistribusian dana sosial umat semata, lebih dari itu P3S merupakan refleksi kepedulian atas nasib petani yang selama ini termarjinalkan dalam lingkaran kemiskinan.

Selain itu beberapa produk pertanian kualitas unggul dan ramah lingkungan seperti Beras Berlian SAE, Benih Pepaya Calina, dan Benih Unggul Jawara yang diproduksi oleh kelompok tani dampingan PSI Dompet Dhuafa pun menjadi sebuah titik terang bagi bangsa ini untuk menuju kedaulatan pangan bagi kesejahteraan rakyat.

Melihat Dompet Dhuafa yang begitu peduli dengan nasib pertanian di negeri ini, seharusnya menjadi sebuah sumber rujukan pemerintah dan semakin dikembangkan agar petani dan pertanian di Indonesia semakin berdaya dan menuju kejayaan. Semoga, momentum peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini mewujudkan seluruh keinginan rakyat Indonesia agar negeri ini mencapai kedaulatan pangan seperti yang selama ini diharapkan. (uyang/gie).Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Edukasi_Kurban  Jampang (25092014)

Para siswa SMP Sekolah Islam Al Syukro Universal, Tangerang Selatan mengikuti acara THK Road to School. Acara yang digelar Dompet Dhuafa tersebut merupakan edukasi kepada para siswa dalam memaknai kurban. (Foto: Yogi/Dompet Dhuafa)

TANGERANG SELATAN—Menyambut Hari Raya Idul Adha 1435 Hijriah, Sekolah Islam Al Syukro Universal, Tangerang Selatan mengajak seluruh civitas akademiknya berkurban melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa.

“Untuk tahun ini kita bekerja sama dengan Dompet Dhuafa. Kita ajak siswa dan orang tua siswa untuk bisa berkurban ke program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa,” ujar Direktur Sekolah Islam Al Syukro Universal, Supangat saat acara THK Road to School, edukasi berkurban bagi siswa oleh Dompet Dhuafa, Rabu (24/9).

Supangat menuturkan, Sekolah Islam Al Syukro Universal berkurban melalui Dompet Dhuafa lantaran hewan yang dikurbankan akan distribusikan ke berbagai daerah pelosok. Hal ini menjadi nilai tambah kebermanfaatan ibadah kurban.

“(Program) ini bagus. Banyak daerah-daerah yang membutuhkan daging kurban bisa mendapatkannya. Jadi, daging kurban tidak menumpuk di kota,” kata Supangat.

Direktur THK Dompet Dhuafa, Herman Budiarto menuturkan, acara THK Road to School memberikan edukasi kepada siswa-siswi untuk mengetahui makna kurban.

“Aktivitas ini adalah bagian dari tarbiyah (pendidikan) sejak dini. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk perkembangan kerohanian anak-anak dalam kehidupan mendatang,” ujar Herman.

Terkait penyaluran hewan kurban, THK Dompet Dhuafa tahun ini menargetkan mendistribusikan ke 4.155 desa, 375 kecamatan, 214 kabupaten dari 33 Provinsi di Indonesia.

Dompet Dhuafa juga akan menyalurkan hewan kurban hingga mancanegara yang targetnya adalah negara di mana penduduk muslim menjadi minoritas dan sering terjadi konflik kemanusiaan. Negara seperti Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar-Rohingya, Thailand dan Timor Leste adalah negara yang menerima distribusi hewan kurban dari program THK Dompet Dhuafa. Bahkan tahun ini juga ada terget untuk menyalurkan hewan kurban ke Gaza, Palestina.

“Ada sistem pemberdayaan. Program THK Dompet Dhuafa tak hanya menebarkan hewan kurban semata, tetapi jugamemberdayakan para peternak binaan yang tergabung dalam program Kampung Ternak Nusantara,” jelas Herman.

Program THK Dompet Dhuafa adalah perwujudan dari model bisnis sosial yang turut mengangkat perekonomian para peternak binaan yang telah ada selama ini. Jadi, ketika umat Islam bergabung dalam program THK ini, tentu mendapat keuntungan ganda. Selain beramal dengan berkurban, masyarakat juga turut serta memberdayakan peternak dari program Kampung Ternak Nusantara.

Semoga langkah belajar siswa-siswi Sekolah Islam Al Syukro dapat diikuti oleh sekolah-sekolah lain baik di Jabodetabek maupun kota-kota lain di Indonesia dalam memaknai kurban di Hari Raya Idul Adha. (gie).Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Dede Jampang (14092014)

Dede saat memperbaiki telepon seluler konsumen di konter HP miliknya. (Foto: Yogi/Dompet Dhuafa)

Berawal dari pertemuan tak sengaja dengan seorang instruktur Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa, Dede Syafrudin (26) memulai hidup baru. Ia tak menyangka dari pertemuan saat pengajian di salah satu masjid itu akan mengubah hidupnya menjadi seorang pengusaha.

Dede merupakan salah seorang alumni IK Dompet Dhuafa. Selepas mengikuti pelatihan teknisi hand phone (HP) IK selama dua bulan, ia memberanikan diri buka usaha servis HP pada 2008 silam.

Ditemui di rumahnya di bilangan Cibubur, mengenakan kaos oblong warna putih Dede berkisah mengenai perjalanan hidup. “Selepas pengajian itu saya diajak gabung untuk ikut pelatihan di IK karena saat itu saya memang nganggur,” kata Dede.

Atas rekomendasi tersebut, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri karena ingin berubah. Dede mengaku ia ingin menjadi sosok manusia yang bisa mandiri.

Pengalaman selama setahun sebagai seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi memacunya untuk berubah. “Sebelum saya menganggur itu saya pernah jadi TKI. Waktu itu kontrak tiga tahun, tapi saya hanya setahun. Saya gak kuat,” kenang Dede.

Menjadi TKI, tutur Dede, telah memberikan pelajaran bahwa pilihan menjadi pekerja, terutama di negeri orang bukanlah pilihan tepat. Oleh karenanya, ia bertekad menjadi pengusaha yang bebas tanpa ada ikatan.

Dede memulai usaha dengan bekal tabungan hasil saat menjadi TKI. Ia kumpulkan sedikit-sedikit untuk membeli perlengkapan servis HP. Perlahan tapi pasti, usaha pria kelahiran Sumedang, 23 Oktober ini berkembang. Kini, tak hanya servis HP, ia melebarkan usaha dengan jasa barber (potong rambut) dan rental mobil.

“Alhamdulillah usaha saya bisa seperti ini. Membuka usaha sendiri itu nikmat, bebas,” ucapnya.

Mendapatkan pelatihan di IK Dompet Dhuafa, aku Dede, tak hanya bicara soal teknis. “Kami juga diberi ilmu mengenai entrepreneurship. Bagaimana membentuk mental seorang pengusaha,” imbuhnya.

Sebagai alumni IK Dompet Dhufa, Dede pun memiliki pesan kepada almamater para penerima manfaat program. Ia berpesan agar mereka memanfaatkan program tersebut dengan menunjukkan usaha maksimal.

“Pesan saya sih buat mereka yah total aja dalam usaha. Jangan setengah-setengah jalaninnya,” terang Dede.

Menjadi salah seorang penerima manfaat IK Dompet Dhuafa, Dede merasa bersyukur. Perubahan hidup lebih baik setidaknya dapat ia capai sejauh ini.

“Alhamdulillah berkat para donatur juga kita bisa begini. Yang kita terima benar-benar bermanfaat,” pungkas Dede.

Masalah pengangguran menjadi pelecut berdirinya IK pada 2005. IK hadir sebagai program yang ditawarkan Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan secara signifikan. Sejak berdiri hingga 2013, lebih dari 4.000 orang memiliki life skill yang dikembangkan melalui kegiatan kewirausahaan (start up entrepreneur). (gie).Sumber:http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Dompet_Dhuafa_USAJampang (23092014)

Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa USA

PHILADELPHIA—Dompet Dhuafa United State of America (Dompet Dhuafa USA) melakukan gebrakan baru di Amerika Serikat. Organisasi nonprofit Indonesia ini menggandeng The Wharton School of Business, University of Pennsylvania adakan pelatihan mengelola keuangan.

Sekitar 20 warga Indonesia di Philadelphia mengikuti pelatihan enam pekan yang dimulai Sabtu (20/9). Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang itu menjalani kursus singkat cara mengelola keuangan.

“Kesenjangan ekonomi yang sangat besar terjadi di negara ini, Amerika Serikat. Ini bisa dilihat dari median kekayaan keluarga warga kulit putih yang mencapai 113.000 dollar AS, sedangkan median kekayaan keluarga warga kulit hitam yang hanya 5.700 dollar AS,” kata Keith Weigeit dalam kuliah perdana Financial Literacy Course dari The Wharton School of Business.

Keith yang merupakan professor dalam bidang strategi manajemen itu pun membuat terobosan baru guna meningkatkan akses masyarakat ekonomi lemah kepada sumber-sumber kekayaan melalui program Bridges to Wealth. Dalam menjalankan program tersebut, The Wharton School of Business menggandeng Dompet Dhuafa USA sebagai mitra kerja untuk merengkuh komunitas Indonesia dan muslim di Amerika Serikat.

Program ini memberikan pendidikan dan pelatihan seputar pengelolaan keuangan, investasi, memperkuat keuangan komunitas dan memberi akses kepada sumber-sumber investasi. “Sisi plus bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang dibina Dompet Dhuafa USA adalah pengelolaan keuangannya akan menerapkan kode etik dan prinsip-prinsip ekonomi syariah. Jadi, program ini bisa memberdayakan masyarakat sekaligus menjadi semacam eksperimen pengelolaan keuangan dan investasi syariah untuk The Wharton,” ujar Haryo Mojopahit dari Dompet Dhuafa USA.

The Wharton School of Business-University of Pennsylvania merupakan sekolah bisnis terbaik tidak hanya di Amerika Serikat, tapi juga di dunia internasional. Bahkan, ‘sensus miliarder’ yang dilakukan oleh Wealth-X dan UBS menobatkan sekolah bergengsi ini sebagai sekolah yang menghasilkan miliarder terbanyak. “Semoga bisa lahir miliarder muslim dari program kerja sama ini,” kata Didi, salah satu peserta kelas Financial Literacy ini. (hry/gie).Sumber:http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Older Posts »