Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2014

Banner-Save-Central-Africa-21

DOULA, KAMERUN- Tim kemanusiaan Indonesia Aid Dompet Dhuafa untuk Afrika Tengah menuju kamp pengungsian di Kenzu dan Garoua Boulai, perbatasan timur Kamerun dan Afrika tengah, Senin pagi (24/3) waktu setempat. Sebelumnya, tim sempat transit di Douala, Kamerun untuk berkoordinasi dengan NGO kemanusiaan lokal, AHAS Association Humanitaire Pour le Development du Cameroon.

“(Koordinasi) diperlukan untuk mengetahui secara valid tentang kondisi pengungsi Afrika Tengah di perbatasan dan kebutuhan yang diperlukan oleh korban konflik sektarian bersenjata tersebut,” kata Ketua tim Indonesia Aid Dompet Dhuafa, Sabeth Abilawa melalui pesan elektronik.

Sabeth menuturkan, perjalanan menuju kamp pengungsian di Kenzu dan Goruya Boulai ditempuh melalui darat. Perjalanan memakan waktu 16 jam tersebut bertujuan untuk menyalurkan bantuan makanan dan obat-obatan amanah rakyat Indonesia bagi pengungsi Afrika Tengah.

Para pengungsi yang  mayoritas adalah anak-anak dan perempuan sangat membutuhkan makanan, obat obatan dan air bersih. Jauh dari rumah, terputus mata pencaharian dan kondisi alam di Kamerun yang susah air bersih menyebabkan derita yang dialami kian bertambah parah.

“AHAS menyebutkan bahwa 15.000 lebih pengungsi tinggal di kamp Garoua Boulai dan 10.000 di Kenzu yang terusir dari negerinya karena konflik sektarian bersenjata. Kamp tersebut hanyalah 2 dari total 5 kamp pengungsi di wilayah perbatasan Kamerun-Afrika Tengah,” jelasnya. (gie)

 

sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Iklan

Read Full Post »

image0015

Setelah 2 tahun, kini terpampang jelas papan nama di sebuah ruko yang terletak dipinggir jalan raya Parung-Bogor. Papan nama bertuliskan ISM (Ikhtiar Swadaya Mitra) Sumber Rejeki yang disertai berlogo bunga anggrek dan padi. Sungguh tak terbayang sebelumnya sebuah ISM akan menempati ruko dan mengelola usaha bersama berupa sembako dan kebutuhan lainnya.

Bukan tanpa perjuangan dan semangat yang sungguh-sungguh untuk bisa mendirikan ISM bersama mitra rata-rata pendidikan SD dan SMP sedangkan yang berpendidikan SMA sangat minim sekali. Rintisan itu bermula pada tahun 2011 tepatnya bulan maret, saya diberi amanah oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa untuk menjalankan program Klaster Mandiri wilayah Zona Madina yang meliputi 5 desa 3 Kecamatan.

Sebelum terjun kelapangan, saya mendapatkan gambaran potensi yang ada diwilayah tersebut dari hasil survey sebelumnya, dari hasil survey itu digambarkan potensi yang ada tidak begitu banyak. Sementara untuk masyarakatnya terbilang masyarakat yang memiliki karakter yang keras dan individualis.

Dengan berbekal gambaran hasil survey strategi diatur untuk bisa masuk ke wilayah tersebut dan diterima masyarakat agar program bisa berjalan dengan baik, langkah pertama yang dilakukan adalah survey pendalaman dengan mengunjungi beberapa titik desa untuk coba menggali lagi potensi yang bisa dikembangkan sekaligus mencari calon mitra yang memiliki persamaan visi dengan program yang akan dijalankan, dalam kurun waktu 4 bulan terekrut mitra sebanyak 48 orang yang terdiri dari 7 kelompok..

Pada tahun pertama pendampingan, mitra yang tergabung dalam program  sudah mencapai 120 orang, ditahun itulah saya sudah benar-benar bisa melihat calon kader yang nantinya akan menjadi pengurus di ISM, ada 4 orang saat itu yang bisa dijadikan kader, adapun pertimbangan menentukan kader tersebut dilihat dari beberapa faktor. Pertama, kesungguhan dalam menjalankan program. Kedua, memilki tujuan jangka panjang untuk kelompok dan masayarakat disekitarnya. Ketiga, Track record dimasyarakat cukup baik. Keempat, selalu semangat dan jarang mengeluh bila menghadapi permasalahan. Setelah yakin dengan calon kader tersebut maka dilakukan pembinaan secara rutin, menyaring kembali siapa yang terbaik. Pada tahap bertujuan untuk memahami karakter dan jiwa kepemimpinan masing-masing kader, karena mereka yang nantinya akan memimpin seluruh mitra.

Dalam proses pemilihan calon pengurus ISM sema diberikan kesempatan yang sama kepada seluruh mitra yang akan mencalonkan diri menjadi pengurus. Kemudian dilakukan uji kelayakan kepada calon pengurus, dengan memberikan soal-soal seputar program yang dijalankan serta visi misi calon ketua untuk seluruh mitra program klaster mandiri wilayah zona madina. Uji kelayakan dilakukan secara terbuka dihadapan seluruh mitra, sehingga pemilihan ketua dan pengurus ISM benar-benar terbuka dan tidak ada rekayasa, dari hasil tersebut maka mitra akan menentukan siapa yang berhak untuk menjadi ketua ISM, acara pemilihan pengurus ISM berlangsung secara meriah dan baik, hal ini juga merupakan pembelajaran organisasi kepada seluruh mitra dan musyawarah secara baik jujur dan terbuka, akhirnya ketua ISM terpilih sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan.

Pengkaderan calon pengurus menghasilkan pengurus yang bertanggungjawab dan bisa memimpin ISM untuk menjadi mandiri. Sumber Rejeki nama yang dipilih oleh para pengurus untuk ISM, mereka berharap dengan nama Sumber Rejeki, ISM yang menaungi seluruh mitra benar-benar menjadi sumber rejeki bagi para mitra khususnya dan masyarakat disekitarnya.

Kemandirian itu sudah mulai tampak sebagaimana tujuan akhir dari pemberdayaan adalah terwujudnya “kemandirian” di wilayah dampingan program. (Yuni, Pendamping Program program Klaster Mandiri wilayah Zona Madina, Parung, Bogor, Jawa Barat). (dian mulyadi)

 

sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

???????????????????????????????

Berawal dari keprihatinan atas kondisi warga di kampung halamannya, Desa Keber Josari Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, Winarti Eka Lidyawati (33) terpanggil untuk bergerak. Salah satu alumnus pelatihan menjahit Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa ini membuka sebuah sentra pelatihan menjahit “Sangar Busana DD Eka”. Awalnya, keraguan ia rasakan.

“Saya sebenarnya ingin membuka industri jahit di sana tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai juga dengan modal usaha,” ujar perempuan yang akrab disapa Eka ini.

Sebagai anak pertama dari keluarga petani yang memiliki keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran  Ponorogo ini menjadi tulang punggung harapan keluarga. Padahal,  ia bercita-cita melanjutkan pendidikan lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mimpi tersebut terpaksa kandas.

“Sempat ingin melanjutkan sekolah, tapi ngga ada biaya. Ya, saya usaha cari kerja waktu itu, maklum anak pertama,” ujarnya.

Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Hingga pada 2003 ia berangkat ke Hong Kong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI). Baginya, menjadi TKI menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air.

“Jujur saja, bekerja di luar negeri bagi saya merupakan pilihan terakhir karena sudah mencari pekerjaan di tanah air sangat sulit,” kenangnya bercerita.

Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut. Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, ia merasa tak nyaman. Ia mendapatkan majikan yang suka mencela dan ringan tangan. Saat terjadi kesalahan yang tak disengaja seperti terjadi kerusakan barang, sang majikan tidak segan-segan memarahi bahkan dimintai ganti lewat pemotongan gaji. Bukan hanya itu, tak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka.

Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, Eka bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang ia lakukan merawat orang jompo. Saat itu, ia diperlakukan secara manusiawi. Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hong Kong dan mengetahui informasi tentang Institut Kemandirian.

“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di Dompet Dhuafa Hong Kong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Empat tahun bekerja di majikan kedua, kerinduan untuk pulang dan menetap di kampung halaman dirasakan Eka. Ia memutuskan untuk membuka usaha sepulang dari Hong Kong. Setelah kembali ke tanah air, ia tak langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti pelatihan menjahit di IK Dompet Dhuafa. Selama kurang lebih dua bulan Eka berlatih menjahit di sana.

“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada 2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya  mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki digunakan untuk  memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan sebagai modal berwirausaha.

Langkah awal yang dilakukan adalah membeli peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga menerima pesanan pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tak memungut biaya sama sekali.

“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya.

Awalnya hanya sedikit yang berminat ikut pelatihan menjahit. Namun, lambat laun akhirnya banyak muda-mudi yang tertarik dengan ajakannya. Selain itu Eka juga bersyukur dengan adanya dukungan dari Dompet Dhuafa yang memberikan sembilan unit mesin jahit yang semakin mewujudkan mimpinya selama ini.

“Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap rasa syukur kepada Allah, melalui Dompet Dhuafa saya bisa mewujudkan mimpi saya, memberdayakan kampung halaman saya,” tutupnya bahagia. (uyang/gie)

 

sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »

Doa-untuk-Erwiana-dan-Satinah-300x225

DDHK News, Hong Kong — Sekitar 200 BMI Hong Kong mengikuti acara istighotsah dan tahlil yang diselenggarakan oleh GAMMI dan JBMI, Ahad ( 23/3 ), di Lapangan rumput, Victoria Park. Doa ini adalah wujud keprihatinan BMI Hong Kong atas nasib yang menimpa Erwiana eks BMI Hong Kong dan Satinah, TKI Saudi Arabia yang terancam hukuman mati.

Massa  mengkampayekan pembebasan Satinah binti Sumadi, TKI asal Ungaran Semarang, yang sedang menunggu hukuman pancung di Arab Saudi jika tidak membayar diyat atau tebusan sebesar Rp21 miliar. Satinah dijadwalkan dihukum pancung pada 3 April 2014.

Dalam sambutannya, Muthi Hidayati dari Liga Pekerja Migrant Indonesia ( LiPMI ) mengatakan, Satinah dan Erwiana hanyalah korban kemiskinan dan buruknya sistem perlindungan bagi BMI di luar negeri. “Seandainya mereka tahu ke mana minta pertolongan, pasti mereka tidak perlu menjadi seperti ini,” tegas Muthi.

Muthi berharap doa, istighotsah, dan tahlil akan membuka mata hati pemerintah Indonesia untuk peduli dengan Erwiana dan Satinah serta korban-korban kekerasan lainnya.

Selain doa untuk Satinah, para BMI juga mengumpulkan dana untuk membantu demi tercapainya dana diyat untuk Satinah. Dana yang terkumpul sebesar HK$14 ribu. (amy utamy/ddhongkong.org).*

sumber: http://www.ddhongkong.org

Read Full Post »

taipei-grand-mosque-in-taipei-city-taiwan-0-300x198

DDHK News, Taiwan — Guna menarik minat wisatawan Muslim mancanegara, termasuk Indonesia, Taiwan siap memperbanyak fasilitas ibadah seperti mushola dan masjid di aera publik.

Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO), Zhang Liang Jen, mengatakan, jumlah penduduk Indonesia yang berwisata ke luar negeri terus meningkat. “Ini adalah potensi pasar pariwisata yang cukup besar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (19/3) malam. Saat ini penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 250 juta jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 88 persen adalah muslim.

Menurut Direktur Taiwan Visitors Association KL Office David Tsao, pemerintah melalui Dinas Pariwisata Taiwan telah menyediakan berbagai fasilitas yang memudahkan wisatawan muslim.

Saat ini, kata dia, sudah ada 44 restoran bersertifikat halal di seluruh Taiwan. “Ini bagian dari upaya kami untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim, baik dari Indonesia maupun negara lain,” ujarnya seprti dikutip tempo.co.

Selain itu, fasilitas lainnya terus diperbanyak, seperti penyediaan mushola dan masjid di area-area publik, terutama di dalam hotel. Menurut David, penyediaan fasilitas ini karena pemerintah menaruh perhatian yang besar terhadap wisatawan muslim yang berkunjung ke Taiwan.

Dengan berbagai fasilitas untuk wisawatan muslim tersebut, pemerintah Taiwan menargetkan bisa menarik wisatawan muslim dari Indonesia sebanyak 15 ribu orang pada tahun ini.

Menurut Zhang Liang Jen, selain ingin meningkatkan sektor pariwisata, pemerintah Taiwan juga ingin menjalin hubungan lebih baik dalam bidang ekonomi dengan Indonesia. Meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik, sudah ada kerja sama yang baik terutama di sektor pertanian.

“Hubungan kami semakin baik, Indonesia punya 4.000 orang yang sekolah di Taiwan dan jumlah wisatawan terus bertambah,” katanya. “Kalian juga punya 200 ribu pekerja di Taiwan yang kebanyakan dari Surabaya.” (tempo.co/ddhongkong.org).*

sumber: http://www.ddhongkong.org

Read Full Post »

IMG_8488

PARUNG- UInnovation Fest merupakan salah satu event terbesar yang dilaksanakan oleh BEM UI dengan tema “New Emerging Force”. Sasaran dari kegiatan ini adalah mahasiswa dan masyarakat umum. Pengunjung bisa datang ke area bazar, pameran pendidikan untuk semua umur, pameran dari komunitas keilmuan, talkshow interatif, pagelaran, dan rangkaian kompetisi nasional. Kompetisi nasional dibagi menjadi 3 cabang yaitu: Social Innovation Design, Green Innovation Design, dan Technology Innovation Design. Peserta kompetisi sendiri diikuti sekitar 15 kampus diseluruh Indonesia seperti Universitas Brawijaya, UNS, ITB, UI, UNAIR, ITS, UNDIP, ITSN, UII, dan UGM.

Acara yang dilaksanakan selama 3 hari (16-18/3), dihari pertama yaitu pelaksanaan Expo dan Bazzar, dihari kedua pelaksaan Kompetisi dan dihari terakhir yaitu acara Music performance. Talkshow insfiratif dilaksanakan pada hari kedua dan dihadiri langsung oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Dirut SMESCO, Ramelan Rahardjo.

Sesuai dengan tujuan acara UInnovation Fest yaitu agar masyarakat umum juga mahasiswa semakin produktif dan mau membuat perubahan, maka Zona Madina bersinergis dengan Institute Inovasi Indonesia juga jejaring program Dompet Dhuafa lainnya memperkenalkan sebuah inovasi baru. Pada gelaran acara yang dilaksanakan di Balairung itu, Zona Madina mengenalkan sebuah inovasi yaitu pemberdayaan sebuah desa melalui stategi wirabudaya berbasis pariwisata, yang diberi nama Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang.

“Buat kita sendiri kegiatan-kegiatan seperti kegiatan UInnovation Fest merupakan sarana untuk memperkenalkan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang ini ke masyarakat. Karena tujuan kita bukan untuk menjual desa Jampang  sebagai profit oriented tapi justru tujuannya yaitu dengan meningkatkan semua potensi objek pariwisata yang ada di jampang akan lebih berdaya. Agar semua potensi yang ada di Jampang bisa diperkenalkan baik yang sudah kita inisiasi dan kita kelola, maupun potensi yang ada dimasyarakat.” kata M. Noor Awaluddin selaku Direktur Zona Madina pada saat memberikan penjelasan dihadapan para pengunjung UInnovation Fest.

Dengan menampilkan langsung pengrajin sarung golok dan pengrajin industri kreatif untuk membuat souvenir dari bahan kain flannel, diharapkan mahasiswa dan masyarakat akan tertarik untuk datang ke desa Jampang. Selain adanya industri kreatif dan industri pengrajin golok dan sarung golok, orang-orang yang akan berkunjung ke Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang juga bisa menikmati program kegiatan lainnya seperti wisata dolanan anak, belajar pencak silat, gendang pencak, kampoeng ternak nusantara, budi daya jamur, dan outbond silat.

Antusias pengunjung dengan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang ini bisa dinilai cukup tinggi terbukti dengan stand yang dipenuhi pengunjung, baik yang hanya sekedar bertanya, melihat koleksi-koleksi golok dan pernak-pernik hasil kerajinan tangan, dan adapula yang tertarik untuk melakukan photo booth menggunakan baju silat yang disediakan di stand. Setelah kegiatan di UInnovation Fest, diharapkan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang dapat dikomunikasikan keberadaannya ke seluruh pelosok negeri sehingga dapat meningkatkan nilai sosioekonomi dan terjaga kelestarian budayanya. (ips)

Read Full Post »

 

IMG_7346

 

 

 

PARUNG – Salah satu program pemberdayaan sosioekonomi dan budaya yang dilaksanakan oleh dompet dhuafa adalah menjadikan desa jampang menjadi desa wisata, dan silat sebagai ikon dari desa wisata tersebut.

Upaya pengenalan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang (KSJ) dilakukan dengan membuka stand pada acara Festival Pencak Silat (FSP) Jawa Barat 2014, yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada hari Minggu (16/2) lalu.

“Bersyukur KSJ telah mengikuti FPS, karena insyaallah KSJ akan lebih dikenal lagi baik di Jampang maupun di Jawa Barat bahkan insyaallah manca negara. Kalau didasari niat baik dan tetap istiqomah untuk pengembangan kebudayaan kita yang berdampak baik juga pada masyarakat khususnya yang ada di daerah desa Jampang.” Kata Guru Besar PPS Beksi Tradisional H. Hasbulloh, Muali Yahya.

Pemecahan rekor MURI gerak jurus H. Yusyus Kuswandana, cultural performance, workshop, dan pameran UKM adalah rangkaian acara yang diselenggarakan di event terbesar di Jawa Barat itu. Sebagai salah satu peserta pameran, tim Zona Madina dan beberapa orang tokoh silat yang ikut serta di event FPS ini sangat bangga akan adanya acara yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan para pesilat tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

“Festival ini murni sebagai bakti saya selaku putra Jawa Barat yang ingin mengembangkan lebih jauh Pencak Silat. Data yang Saya punya, Pencak Silat kini sudah ada di 40 negara, dan Saya punya harapan bisa bertambah lagi” ujar Yusyus Kuswandana selaku penggagas Festival Pencak Silat yang juga anggota DPR-RI dari wilayah Sumedang. Oleh karena itu, Yusyus menciptakan 9 jurus baru untuk Pencak Silat yang dinamakan Simpay Buana, yang artinya ikatan persaudaraan Dunia. (pun).

Acara yang berlangsung meriah dari pagi hingga sore hari itu turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti yang pada kesempatan itu juga berkunjung ke stand Desa Wisata KSJ dan menyampaikan respon positifnya atas gagasan pemberdayaan Desa Wisata KSJ yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Tidak hanya Ibu Wiendu, Dede Yusuf  yang juga Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat dan Presiden Silat Dunia  Eddie M Nalapraya juga mengunjungi stand Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang.

Saat ini pengembangan Desa Wisata KSJ sudah dengan menjadikan Silat sebagai bagian dari dunia pendidikan, yaitu ekskul Silat menjadi sebuah sistem pengembangan karakter positif yang prestasi. Pengembangan di bidang pelestarian budaya tradisional dengan adanya wisata dolanan anak. Wisata enam jam membuat golok dan kerajinan pernak-pernik juga merupakan salah satu upaya pengembangan Desa Wisata KSJ dibidang sosioekonomi.

Dengan mengikuti acara pameran dan memperkenalkan konsep Desa Wisata KSJ ini juga diharapkan dapat menarik peran serta masyarakat, pemerintah daerah dan lembaga lainnya untuk turut serta dalam pengembangan Desa Wisata Kampoeng Silat Jampang di masa yang akan datang. (ips)

Read Full Post »

Older Posts »