Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

CIANJUR – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al Ikhwan Cianjur, salah satu mitra Pertanian Sehat Indonesia (PSI) Dompet Dhuafa, membangun penggilingan padi komunitas. Menurut Aa Idam, salah satu pengururs Gapoktan, pembangunan penggilingan padi komunitas tersebut guna mengurangi konsumsi beras untu rakyat miskin (raskin).

“Dengan adanya penggilingan ini, harapannya dapat menyediakan beras berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Selama ini masyarakat banyak yang mengkonsumsi raskin. Konsumsi raskin di Desa Sukaraharja mencapai 17 ton per bulan,” jelas Idam dalam silaturahmi petani dengan Ketua Dewan Pengawas Dompet Dhuafa, Eri Sudewo, Jumat, (19/4) lalu di Desa Sukaharaja, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

Sementara itu, Eri Sudewo dalam kunjungannya berpesan agar petani merawat dan mengembangkan pertanian dengan hadrinya penggilingan padi komunitas tersebut.

“Kunci keberlanjutan penggilingan padi ini terletak pada pengelolanya. Jika para pengelolanya jujur, amanah, dan komitmen membantu masyarakat maka keberadaan penggilingan ini akan berkelanjutan,” ujar Eri Sudewo.

Gapoktan Al-Ikhwan yang beranggotakan 209 petani merupakan binaan jejaring PSI Dompet Dhuafa sejak tahun 2009 melalui Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S).Para pengurus Gapoktan menegaskan bahwa keberadaan program ini harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Kami berharap penggilingan padi ini bisa bermanfaat bukan hanya bagi anggota Gapoktan melainkan juga bagi masyarakat di luar anggota,” pungkas Idam. www.dompetdhuafa.org

Tags: PSI
Iklan

Read Full Post »

Siapa yang tak senang bila berpenghasilan Rp.3 juta dalam sehari. Galibnya, semua orang menginginkannya. Tak terkecuali Tri Wiyono (25). Alumni Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa ini memiliki omzet sebesar Rp.3-4 juta dalam sehari dari usaha servis dan jual-beli handphone (HP) miliknya.

“Alhamdulillah dengan usaha yang saya miliki ini bisa bahagiain orang tua. Dulu sering menangis karena belum bisa nyenengin orang tua di Lampung,” kata Tri.

Pria berperawakan jangkung yang hanya lulusan SMA di Lampung ini memang bercita-cita menjadi pengusaha. Usia 21 tahun, ia merantau ke Jakarta diajak sang kakak membangun usaha. Sebelumnya, tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan Tri selain membantu orang tua di rumah.

“Saat mulai merantau itu membawa angin perubahan bagi saya. Saya semakin termotivasi untuk memulai hidup mandiri di kota metropolitan,” terangnya.

Sebagaimana usaha pada umumnya, usaha yang dibangun sang kakak dibantu dirinya pun mengalami pasang surut. Usaha yang digeluti pun berubah-ubah, mulai dari jual pulsa HP, bubur kacang hijau, hingga jagung bakar.

Tri pun sempat bekerja di restoran di bilangan Pluit demi menambah penghasilan. Namun, hanya bertahan selama sebulan karena gaji sebesar Rp 300 ribu yang dirasa kecil tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dalam sebulan.

“Pernah saya ditawari untuk jual buah semangka, Saya ambil dan bareng kakak lagi, tapi hanya bertahan sebulan. Bukan keuntungan yang saya dapatkan malah kerugian karena banyak semangka yang busuk,” kenangnya.

Berbagai kegagalan demi kegagalan terus menerus menimpa Tri selama merintis usaha. Meski begitu, Tri memutuskan untuk tetap berjualan bubur kacang hijau dan pulsa. Selama enam bulan usaha dijalankan, ia hanya mendapatkan keuntungan 30 ribu per hari.

Setelah sekian lama jatuh bangun dalam usahanya, pada tahun 2012 Tri mendapatkan informasi dari salah seorang temannya bahwa ada pelatihan servis HP gratis di IK Dompet Dhuafa.

“Ketika berpikir untuk mengembangkan usaha konter saya menjadi pusat servis handphone ternyata ada jalannya,” ujarnya.

Tak berpikir lama, Tri mendaftarkan diri mengikuti pelatihan servis handphone secara on line di website IK (institutkemandirian.org). Setelah menunggu sebulan, ia diterima sebagai siswa pelatihan dan bisa mengikuti pelatihan teknisi handphone dan kewirausahaan selama sebulan.

Selama pelatihan, Tri tidak hanya mendapatkan keahlian teknisi handphone, dia juga mendapat suntikan motivasi dan perubahan pola pikir dalam membangun usahanya. Dari pelatihan yang ia dapatkan, kini strategi usaha pun berubah. “Dari tidak ada garansi menjadi ada garansi, juga pelayanan servis yang lebih baik dari sebelumnya,” jelasnya.

Pendidikan dan pelatihan yang dijalani Tri di Institut Kemandirian tidak hanya sekedar pelatihan keterampilan. Ia dan seluruh peserta pelatihan juga mendapatkan pengalaman pembiasaan pembinaan karakter di Asrama Wakayapa IK Dompet Dhuafa di bilangan Karawaci, Tangerang.

“Ridho orang tua itu sangat penting untuk kesuksesan saya sejauh ini. Dan tidak lupa bersedekah agar rezeki tetap bertambah,” tutup Tri. (willi/gie)

www.dompetdhuafa.org 

Read Full Post »

bidan-ntt

JAKARTA- Kebutuhan bidan di tengah masyarakat Indonesia memang tidak terbantahkan. Pasalnya, masyarakat Indonesia, galibnya, melahirkan seorang bayi atas jasa seorang bidan.

Eksistensi seorang bidan jelas menjadi keniscayaan. Mengingat kehadirannya amat dibutuhkan, penyebaran bidan sejatinya merata di seantero negeri guna membantu para kaum hawa melahirkan generasi penerus bangsa.

Profesi bidan, sebagaimana profesi lain, menuntut adanya sebuah kompetensi dan profesionalitas. Hal tersebut lantaran bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan bidan mencakup pendidikan antenatal (sebelum melahirkan) dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak. Bidan tidak sekedar membantu seorang ibu melahirkan.

Tidak salah bila Ikatan Bidan Indonesia(IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah seorang yang (harus) memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi, dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Karena itu, pelatihan dan peningkatan kapasitas bidan adalah agenda kesehatan nasional yang tidak bisa dikesampingkan, terutama di daerah pelosok, daerah perbatasan.

Menyadari fakta tersebut, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa meluncurkan program Bidan di Tapal Batas.

“Program tersebut didedikasikan kepada para bidan di daerah perbatasan negeri guna meningkatkan kapasitas diri,” ujar Direktur LKC Dompet Dhuafa, Adi Mawardi.

Metode pelaksaan program tersebut, Adi mengatakan, terdiri dari tiga bentuk pelatihan. Pertama, pelatihan pemeriksaan IVA.

“Pelatihan ini merupakan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks dengan metode usapan cairan asam asetat 3% pada serviks,” ujar Adi.

Kedua, pelatihan manajemen laktasi, MP-ASI dan perawatan metode kanguru. Pelatihan ini merupakan salah satu metode mudah dan murah untuk perawatan bayi berat lahir rendah dengan tidak mengesampingkan pemberian ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi berat lahir rendah.

Kemudian pelatihan yang selanjutnya adalah pelatihan senam hamil dan pijat bayi. Senam hamil merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan pada ibu hamil dan melatih ibu hamil serta mempersiapkan ibu bersalin. Pelatihan pijat bayi untuk bidan sebagai upaya meningkatkan kesehatan anak.

“Sasaran program ini adalah 100 orang bidan dengan masing 25 orang bidan di 4 titik perbatasan di Indonesia,” jelas Adi.

Empat titik perbatasan di Indonesia tersebut, yakni Entikong, Kalimantan Barat; Bantaeng, Sulawesi Selatan; Rote, NTT, Pulau Aceh, Aceh. Waktu pelaksanaan program tersebut bergulir  Maret hingga April 2013. (gie)

www.dompetdhuafa.org

Read Full Post »