Feeds:
Pos
Komentar

backksj     Jampang (09/01/2015)

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, Nenek Pio (65) merasakan tinggal di rumah yang sudah tidak layak huni. Keadaan rumahnya begitu memprihatinkan. Atap yang bocor, dinding yang hanya terbuat dari bilik yang semakin rapuh, juga lantai yang masih beralaskan tanah kerap membuatnya sering mengeluhkan masalah kesehatan. Bagaimana tidak? Saat hujan turun, air hujan pun masuk dari celah-celah atap rumahnya yang bolong. Belum lagi, dinginnya angin malam yang selalu berhembus kencang dari sudut-sudut bilik rumah setia menemani ketika ia beranjak istirahat.

“Saya sering banget masuk angin. Mungkin sering kena angin malam terus. Saya udah biasa kayak gini,” ujarnya saat ditemui tim survey Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, di rumahnya di Jalan Rawa Silam. 004/003, Pondok Ungu, Kali abang Tengah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Desember lalu.

Lebih lanjut Nenek Pio menceritakan, ketika musim penghujan tiba, ia sudah mulai mengantisipasi dengan menyingkirkan barang-barang yang berada di dalam rumah seperti tempat tidur dan lemari pakaian ke ruangan yang lebih aman, agar tidak tergenangi air hujan. Selain itu, ia juga lebih memilih mengungsi ke rumah tetangga karena posisi rumahnya yang lebih rendah sehingga air hujan mudah tergenang dan memasuki rumahnya.

Bagi nenek yang telah menyandang status janda ini, memiliki sebidang tanah meski rumah yang ditempatinya sudah tidak layak huni, sedikit pun tak pernah membuatnya merasa berkecil hati. Baginya, menikmati tinggal bersama dengan 2 anak dan 2 cucunya yang masih kecil menjadi nikmat terindah yang menghiasi kehidupannya selama ini.

“Yang penting sekarang mah sehat aja syukur. Bisa kumpul ama cucu ama anak. Jadi banyak-banyak syukurin aja sekarang mah,” ucapnya bijak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Nenek Pio setiap harinya bekerja sebagai buruh tani di sebuah kebun yang berada di dekat tempat tinggalnya. Dalam sehari, ia biasa mendapat upah sebesar Rp 15 ribu sampai dengan Rp 20 ribu. Sedangan kedua anaknya yang juga telah menyandang status janda bekerja sebagai buruh cuci, dan seorang lagi bekerja sebagai buruh angkut pasir di sebuah matrial.

“Dari hasil buruh tani saya pake buat makan sehari-hari. Kadang juga kasih uang jajan buat cucu saya,” paparnya.

Kini, Nenek Pio memiliki sebuah harapan, kelak mampu merenovasi rumah agar dapat menikmati masa tuanya. Ia begitu sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan ia beserta anak dan cucunya,bilamana hujan tiba dan angin malam selalu datang menjadi tamu yang membawa ancaman kesehatan bagi keduanya.

“Yah mudah-mudahan ada yang bantu saya supaya bias renovasi rumah. Saya mah cuma bias berdoa terus sekarang,” ujarnya lirih.

Alhamdulillah, doa yang dipanjatkan Nenek Pio dan keluarga setiap harinya terjawab sudah. Dengan rahmat Allah, Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) membantu keluarga kecil ini merenovasi rumahnya.

Rasa syukur tak henti-hentinya dipanjatkan Nenek Pio beserta keluarga. Kini, rumahnya layak kembali untuk dihuni. Inilah buah manis dari perjuangan orang yang terus bersabar dan berjuang dalam menjalani hidup. (uyang). Sumber : http://www.dompetdhuafa.org

Foto_Pasien_RST    Jampang (09/01/2015)

BOGOR – Datang ke poli umum RS. Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa bersama sang ayah untuk meminta surat izin masuk ke rawat inap, Wulan (5) langsung menyapa ramah perawat yang bertugas pada Selasa, (7/1) lalu. “Hai suster, lagi ngapain” sapanya. Riang dan ceria, begitulah gambaran sosok Wulan yang didiagnosa menderita penyakit Thalasemia.

Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya. Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi yang berada di dalam sel darah merah dan berfungsi sangat penting untuk mengangkut oksigen dan paru-paru ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkannya sebagai energi.

“Tiap satu bulan sekali, Wulan rutin jalani tranfusi darah di sini (RST Dompet Dhuafa),” ucap Heri, ayah Wulan.

Heri menuturkan betapa terkejutnya ia mendapati anak bungsunya didiagnosa oleh dokter salah satu rumah sakit di Jakarta menderita penyakit yang mematikan tersebut.

“Waktu usia 8 bulan wajahnya pucat sekali dan langsung saya periksakan ke dokter. Saya tidak tahu apa itu Thalasemia, dan setelah dijelaskan oleh dokter saya kaget sekali karena selama ini ketiga kakak Wulan sehat-sehat saja dan saya beserta istri pun tidak ada keturunan penyakit tersebut,” ungkap Heri.

Berprofesi sebagai kuli bangunan dengan pendapatan tidak menentu serta istri yang bekerja serabutan sebagai kuli cuci gosok membuat Heri senantiasa berusaha dan berdoa untuk kesehatan Wulan. “Walaupun biaya pengobatan gratis tapi tetap saja kepikiran, saya enggak putus doa dan ikhtiar, apapun akan saya lakukan demi lihat anak sehat terus,” ucapnya.

“Bisa diberikan 3 sampai 4 kali tranfusi tergantung kadar hemoglobin pasien dan berat badan saat ini. Karena harus tranfusi seumur hidup, pemantauan fungsi hati, ginjal serta jantung pun akan dilakukan teratur setiap 6 bulan sekali untuk mengevaluasi kelebihan zat besi,” ucapnya.

Cita-cita menjadi seorang dokter pun sudah diimpikan murid taman kanak-kanak yang sudah bisa membaca dan mengaji ini. “Udah biasa ditusuk jarum, jadi enggak sakit. Pingin cepet sembuh,” ucap Wulan polos. (tie/gie). Sumber : http://www.dompetdhuafa.org

belajar_di_alam Jampang(06/01/2015)

Kecintaannya dalam dunia pendidikan membuat Aprilia Nuraida, perempuan asal Blitar, Jawa Timur ini, memantapkan hatinya untuk bergabung dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa pada 2014 lalu. Bagi alumnus Universitas Brawijaya ini, mengabdi dalam dunia pendidikan menjadi prioritas utama yang kini telah diwujudkannya. Semua dilakukannya dilandaskan niat untuk mecerdaskan anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa.

Ditugaskan di wilayah pelosok untuk mengabdikan diri, tidak membuat April, demikian sapaan akrabnya sehari-hari ini tidak merasa terbebani. Sejak 5 bulan ditugaskan di Dusun Patulang, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, perempuan kelahiran 23 April 1990 ini berusaha terbiasa dengan keterbatasan yang dirasakannya selama mengabdi di wilayah tersebut mulai dari, minimnya aliran listrik, sinyal dan jaringan komunikasi yang sulit dijangkau, dan kelangkaan air bersih bila musim kemarau tiba.

“Pertama datang ke sini saya memang mulai beradaptasi. Apalagi kalo air di sini lagi kekeringan, biasanya saya dan warga harus ke penampungan air bersih sekitar 1 jam,” paparnya saat dihubungi melalui telepon pada Jumat (26/12) lalu.

Belum lagi, Aprilia lebih lanjut menceritakan, medan yang sulit begitu dirasakannya ketika ia hendak menuju ke 3 lokasi sekolah di SDN 032 Ambopadang , SMPN 02 Tutallu, dan SMKN 1 Tutallu, tempatnya mengabdikan diri menjadi guru relawan. Kondisi jalan tanah berbatu dengan dikelilingi perbukitan serta jurang yang begitu curam yang setiap saat bisa saja mengancam keselamatan jiwanya, tak menyurutkan semangatnya untuk membagi ilmu yang bermanfaat yang dimilikinya.

“Karena ini sesuatu yang baru buat saya (pengalaman). Saya suka tantangan, saya senang berbagi pengalaman saya terutama ilmu bermanfaat bagi anak-anak,” ujar Guru Relawan SGI Dompet Dhuafa angkatan VI ini.

Saat mengajar di kelas, perempuan murah senyum ini selalu menggunakan 3 metode belajar yang dijadikannya sebagai metode mengajar cerdas dan kreatif. Pertama, motode homevisit, les tambahan, belajar sambil bermain di dalam dan luar ruangan. Metode belajar yang diterapkannya tersebut bertujuan untuk membantu murid-muridnya dalam memahami berbagai mata pelajaran.

“Saya pernah terapkan metode kelompok belajar, tapi ternyata kurang efektif. Makanya saya coba tambahkan metode belajar sambil bermain, ternyata siswa-siswa saya antusias sekali,” jelasnya.

Semangatnya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa negeri ini tidak hanya sampai disitu saja. Aktivitas sehari-hari di penempatan banyak dihabiskannya dengan mengisi kegiatan yang lagi-lagi membawa banyak manfaat seperti memberikan les kepada siswa-siswa yang membutuhkan tambahan pelajaran atau mengerjakan PR. menjalani kegiatan sore menyenangkan bagi anak-anak sekitar tempat tinggal (istana anak).Selain itu, kegiatan Malam Bina Taqwa(Mabit) untuk anak-anak sekitar tempat tinggal pun dilaksanakan setiap 2 kali seminggu. Dalam kegiatan mabit biasanya April mengisinya dengan dongeng kisah tauladan.

Mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa dalam misi kemanusian, membuatnya tidak patah semangat meskipun keadaan yang dilaluinya sangatlah sulit meski mengabdi di perbatasan. Bagi April, menginvestasikan ilmu bagi anak-anak khususnya di daerah perbatasan adalah tugas mulia.

“Ini tugas mulia, dan saya yakin ini investasi akhirat. Mengabdi dengan rasa ketulusan akan menimbulkan kebahagian tersendiri, bila dijalankan dengan tulus dan ikhlas,” pungkasnya tersenyum. (uyang).Sumber : http://www.dompetdhuafa.org

diskusi3    Jampang (05/01/2015)

Gemuruh semangat nampak terlihat di wajah para peserta dalam acara diskusi budaya DJampang Festival 2014 yang di selenggarakan di Zona Madina Dompet Dhuafa pada sabtu 27 september 2014, di pelataran Kawasan Wisata D’Jampang, Kemang, Bogor, Jawa Barat.Adapun pesertanya di ikuti oleh kurang lebih 60 orang, terdiri para Pesilat & masyarakat umum.Perguruan Silat yang hadir meliputi P.S.Beksi Merah Delima Indonesia (BMDI), Silat Gerak Paseban, Gerak Gulung Budidaya, Silat Sera, Satria Muda Indonesia (SMI), Perisai Diri & Tifan Fokan.

Yayan Rukmana, Direktur Pengembangan Zona Madina Dompet Dhuafa mengatakan , kegiatan Diskusi Budaya ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar Pesilat di Kampoeng Silat Jampang(KSJ).

“Kegiatan Diskusi Budaya ini merupakan salah satu dari rangkaian acara Hajatan Akbar DJampang Festival VI, 27 – 28 Desember 2014.Semoga dengan 6 tahun berjalannya KSJ, Desa Jampang Semakin maju & berkembang karena pengembangan Pencak Silatnya ”.Ujarnya

Acara ini di awali dengan parade Silat dari masing – masing perguruan dari Pukul 09.00 – 12.00. Kemudian setelah Ba’da Zuhur di barulah mulai acara diskusi budaya.

Bpk.Moh.Arifin Purwakananta selaku dewan Pembina KSJ mengatakan bahwa Silat bukan merupakan objek, tapi subjek.Fokusnya ialah mendorong Silat untuk bisa menyumbang sesuatu bagi Desa Jampang.

“Harapan saya Silat bisa mendorong Wisatawan berkunjung ke Jampang & menyedot Devisa seperti Kungfu Shaolin yang ada di China.Kalau Silat belum bisa mendorong Wisatawan datang ke Jampang, ya salah di kita, karena Silat itu sendiri sudah mashur, Silat sedang di gali ilmunya & di undang kesana kesini ”.tegasnya dengan penuh semangat.

Adapun Kades Jampang Bpk.Wawan Hermawan Amd. mengatakan bahwa Desa ini ialah milik semua perguruan Silat.

“Kita harus mempersiapkan jati hidup SDM, sehingga infrastruktur yang di miliki bisa berkembang” tuturnya.

Kegiatan ini selesai pada Pukul 16.00.dan di ahiri dengan Fotografi Silat dari berbagai macam Perguruan.(Alam)

Syahrizal   Jampang (05/01/2015)

“Saya bercita-cita ingin jadi presiden republik ini. Saya ingin Indonesia bisa menjadi negara yang maju dan semua rakyatnya bisa sejahtera,” ujar Syahrizal (14), siswa SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa saat bercerita mengenai cita-cita yang ingin digapainya.

Siswa yang tengah duduk dibangku kelas VIII SMP ini mengaku, jika seseorang memiliki cita-cita dan impian, haruslah dengan niat sesungguhnya, agar apa yang diharapkan selama ini tercapai. Tidak hanya dengan melukis impian saja, namun juga berusaha menuntut ilmu sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni.

“Ingin sukses harus ada strateginya. Saya selalu menerapkan kebiasaan rajin membaca dan berlatih soal-soal pengetahuan. Ini saya terapkan agar ilmu saya dapat terus saya ingat,” terang siswa yang akrab disapa Rizal ini.

Memasuki 2 tahun menimba ilmu di SMART Ekselensia Indonesia, pengalaman yang paling berkesan sempat dirasakan Rizal seperti, belajar tentang ilmu pengetahuan, kemandirian, kedisiplinan, dan berorganisasi. Selain itu ia mengaku, selain memiliki wawasan pengetahuan yang luas, menjalin persahabatan yang luas juga menjadi hal yang paling berkesan.

“Alhamdulillah saya sudah punya banyak sahabat sejak sekolah di sini (SMART Ekselensia Indonesia), biasanya saya dan teman-teman saya suka bentuk kelompok belajar, terus kita kumpul di perpustakaan sekolah,” ujarnya tersenyum.

Bagi Rizal, mustahil rasanya ia kini mampu melanjutkan pendidikan. Ia menuturkan, sang ayah yang hanya berprofesi sebagai Supir dengan penghasilan yang pas-pasan dirasa tak mampu membiayai pendidikan lanjutan untuknya, dikarenakan ketiga adiknya yang juga menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar.

“Bapak penghasilan sebulan sekitar Rp 1,5 juta. Belum lagi adik-adik saya juga masih sekolah. Saya kasihan sekali kalo lihat bapak,” ujar siswa asal Bogor ini.

Namun, ia tidak ingin berlarut-larut dengan kesedihan dan keterbatasan ekonomi yang dirasakan keluarganya. Dengan tekad yang dimilikinya, ia berusaha penuh untuk mencari informasi tentang sekolah gratis berkualitas.

Keberuntungan mulai menghampiri Rizal. Saat ia pulang sekolah, seseorang melintas di persimpangan jalan dan terlihat sedang membagi-bagikan brosur. Penasaran akan hal tersebut, ia pun bergegas menghampiri, dan mengambil brosur yang ditawarkan.

“Pas saya baca, ternyata brosur pendaftaran sekolah bebas biaya SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa, saya langsung minta izin sama bapak dan ibu saya. Alhamdulillah orangtua saya mendukung saya,” paparnya.

Setelah mendapatkan izin, Rizal ditemani sang ayah berangkat ke Jakarta untuk mengikuti beberapa rangkaian tes seleksi seperti administrasi, bidang studi, psikotes, survey tempat tinggal. Alhamdulillah, setelah mengikuti rangkaian proses seleksi tersebut, Rizal dinyatakan lolos seleksi pada 3 bulan kemudian.

Kini, ia hanya ingin fokus untuk menuntut ilmu setinggi mungkin agar apa yang diharapkannya selama ini tercapai. Semoga segudang harapan dan impian yang selama ini diinginkan dapat segera terwujud. (uyang)

CARE_VISIT_EDU_VENTURE_2014  Jampang (30 Desember 2014)

PARUNG- Keceriaan nampak terlihat di wajah anak-anak yang menjadi peserta dalam kegiatan Care Visit Edu Venture yang digelar Dompet Dhuafa selama 2 hari, pada Sabtu-Ahad (27-28/12), di Bumi Pengembangan Insani dan Zona Madina, Parung, Bogor, Jawa Barat. Dikemas dengan konsep Eduventure, kegiatan Care Visit kali ini memadukan muatan education (pendidikan) dan adventure (petualangan) bagi anak-anak berusia 10-15 tahun (tingkat SD/SMP/SMA).

Yuyun, Supervisor CRM Dompet Dhuafa menuturkan, kegiatan Care Visit bertujuan untuk memperlihatkan dan mendekatkan masyarakat khususnya para donatur, dalam program-program pemberdayaan Dompet Dhuafa. Dengan mengusung tema Edu Venture, kegiatan-kegiatan yang diperkenalkan merupakan program pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Untuk program pendidikan, kami bersinergi dengan SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa, sedangkan untuk program kebudayaan, kita bekerja sama dengan mitra dari Zona Madina dalam kegiatan Care Visit ini,” ujarnya.

Di hari pertama, berbagai kegiatan menarik dan mengasyikkan pun diikuti para peserta yang berjumlah 20 orang ini, di antaranya, belajar proses membatik, melukis caping, menangkap lele, budidaya jamur tiram, super memory system (menghafal Al-quran dengan super memory system dan membaca buku secara cepat), dan speed reading.

“Kita tidak hanya sekedar materi, tapi kita juga praktek langsung ke lokasi program-program pemberdayaan Dompet Dhuafa. Dari kegiatan ini kami mengharapkan, para peserta dapat mentransfer nilai-nilai kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya berharap.

Selain itu, Alisya Carbelia Anwar (9) salah satu peserta kegiatan Care Visit ini mengaku, sangat bergembira ketika mengikuti proses membatik dan menangkap lele. Selain ilmu dan wawasan pengetahuan yang bermanfaat yang diterimanya, ia juga banyak berkenalan dengan teman –teman baru.

“Awalnya aku didaftarin sama mama. Aku senang banget bisa ikut belajar dan main di sini (Care Visit). Bisa belajar membatik dan dapat teman-teman baru,” ungkap siswi kelas 3 SD ini.

Kegiatan Care Visit Edu Venturial akan berlangsung selama 2 hari. Di hari kedua, rencana kegiatan belajar sambil bermain ini akan dilanjutkan dengan berbagai macam kegiatan mengasyikkan lain, di antaranya, berlatih silat (self defence), panen jamur, budidaya ikan hias, dan beternak kambing. (uyang)

Aminah_bersama_sang_suami_dan_putri_kecilnya_yang_tengah_sakit._   Jampang (23/12/2014)

Setiap ibu dibelahan dunia manapun selalu mengharapkan kedua buah hatinya dalam kondisi yang sehat. Begitu juga yang diharapkan Aminah (36), seorang ibu rumahtangga yang tinggal di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Baginya, kesehatan buah hatinya menjadi prioritas utama yang menjadi fokus perhatiannya.

Namun, perasaan gelisah pun mulai menghampiri ibu yang baru memiliki seorang putri ini. Lutfia Anida, putrinya yang berusia 1 tahun, didiagnosa oleh dokter terserang penyakit usus buntu, sejak sakit dibagian perut sebelah kiri telah dirasakannya sebulan yang lalu.

“Saya cemas banget. Kalo malem sering nangis pegang-pegang perut katanya sakit di sebelah kiri. Saya langsung bawa aja berobat ke sini,” ujarnya saat mendatangi klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa pada Jumat (12/12) lalu.

Rasa sakit yang dikeluhkan sang anak membuat Aminah sangat terpukul. Ia pun tak pikir panjang lagi. Bersama sang suami, ia langsung membawa sang buah hati untuk berobat ke klinik yang memberikan pelayanan kesehatan terpadu gratis bagi kaum dhuafa ini. Ia menceritakan, awalnya sang anak sudah pernah dirujuk di salah satu rumah sakit swasta. Namun, karena biaya pengobatan yang tidak bersahabat membuatnya beralih ke klinik lain.

“Suami saya cuma buruh di matrial. Jangankan buat berobat, buat makan sehari-hari aja saya udah syukur. Apalagi saya sekarang masih tinggal sama mertua. Saya ngerasa beban aja,” terangnya.

Atas kondisi yang dialami Lutfia, lebih lanjut Aminah bercerita, bila kondisi sang anak masih mengalami sakit perut berkepanjangan selama 5 hari, sang dokter menyarankan agar Lutfia menjalani rontgen dan menunggu hasilnya. Bila positif menderita usus buntu, disegerakan untuk mengikuti tindakan medis selanjutnya.

“Dokter bilang kalo ini usus buntu, anak saya disuruh operasi. Ya saya sih cuma bisa doa dan pasrah aja sekarang, yang penting anak saya sembuh,” ucapnya lirih.

Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Aminah selalu berusaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik untuk kesembuhan sang buah hati. Kesabarannya dalam menerima cobaan dan mengurus sang anak dengan penuh keikhlasan ini semoga mampu menjadi inspirasi keteladanan bagi seluruh kaum ibu. (uyang). Sumber: http://www.dompetdhuafa.org

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 633 pengikut lainnya